UIN Walisongo Online, Semarang – Sosok wisudawan terbaik kerap identik dengan mahasiswa yang disiplin belajar setiap hari dan penuh target akademik sejak awal kuliah. Namun gambaran itu tampaknya tidak sepenuhnya melekat pada Mohammad Jahid atau akrab disapa Aid, lulusan Program Studi S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM), dalam prosesi Wisuda Periode Mei 2026 UIN Walisongo Semarang yang digelar Sabtu (23/5/2026) di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub.
Mahasiswa asal Rembang itu justru mengaku tak pernah menargetkan predikat wisudawan terbaik sejak semester awal. Fokusnya sederhana: mendalami ilmu yang ia cintai—tafsir, sejarah agama, dan literasi.
“Jujur saya kaget,” ujarnya mengenang momen saat notifikasi di ponselnya muncul. Awalnya, Aid mengira pesan tersebut hanya candaan dari teman-temannya. Namun setelah membaca isi percakapan, ia baru menyadari dirinya terpilih menjadi wisudawan terbaik FUHUM.
“Ini sebuah kehormatan besar. Seingat saya, baru kali ini pengetahuan saya mendapat apresiasi formal,” katanya.
Alih-alih mengejar gelar prestisius, Aid sejak awal lebih sibuk menuruti rasa ingin tahunya terhadap dunia ilmu pengetahuan. Ia menyebut dirinya sebagai “maniak buku”—penggemar sejarah agama-agama, kutu buku, pencinta film, anime, hingga budaya populer. Baginya, menjadi wisudawan terbaik seperti bunga yang lama ditanam tanpa pernah terlihat mekar, lalu tiba-tiba berkembang di saat yang tak terduga.
“Ibarat bunga yang saya tanam tak pernah mekar, tetapi akhirnya mekar jua,” ungkapnya.
Skripsi Tak Lazim: Membongkar Kisah Mitologis Ikan Nun
Daya tarik Aid tidak berhenti pada kisah personalnya. Skripsi yang ia tulis pun tergolong unik dan tidak biasa. Ia mengangkat penelitian berjudul “Kritik Kisah Isrā’īliyyāt Ikan Nūn dalam Kitab Jāmi’ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān Karya al-Ṭabarī”.
Ketertarikannya lahir dari kegemarannya membaca kitab tafsir dan sejarah agama. Saat menelusuri salah satu karya tafsir klasik, ia menemukan klaim menarik: kisah ikan Nun dalam tafsir tertentu dianggap sebagai cerita mitologis buatan tradisi Yahudi untuk mengelabui umat Islam. Namun Aid merasa ada yang janggal.
“Naluri kritis saya langsung menyala. Ini tuduhan besar, tetapi saya merasa perlu melihat buktinya,” katanya.
Penelitiannya kemudian menemukan petunjuk penting dalam hadis sahih yang tercantum di kitab Sahih al-Bukhari. Menurutnya, jejak historis kisah tersebut justru dapat dibaca melalui konteks relasi budaya dan pengetahuan antara tradisi Islam dan Yahudi pada masa awal Islam.
Temuan itu, bagi Aid, membuka ruang baru untuk membaca tafsir secara lebih kritis sekaligus historis.
Kutu Buku, Wibu, dan Pecinta Literasi
Berbeda dengan stereotip mahasiswa berprestasi yang identik dengan jadwal belajar superketat, Aid mengaku nyaris tidak “belajar” dalam pengertian konvensional. Ia lebih banyak memaksimalkan waktu kuliah untuk menyerap diskusi dosen, lalu melanjutkan proses belajar melalui aktivitas membaca buku, menonton film, anime, mendengarkan musik, hingga menekuni sejarah dan budaya populer.
“Saya lebih menikmati tugas sebagai saluran karya, bukan beban,” katanya.
Di tengah aktivitas akademik, Aid aktif di organisasi pers mahasiswa LPM IDEA. Di sana ia menemukan ruang yang mempertemukannya dengan dunia literasi dan kepenulisan, bahkan sempat dipercaya menjadi kepala divisi sastra. Baginya, organisasi tidak selalu menurunkan IPK—asalkan mahasiswa tetap memahami prioritas utama.
“Pilih organisasi yang sehat, jangan berlebihan berkecimpung di dalamnya, dan tetap tahu bahwa kuliah ya kuliah itu sendiri,” ujarnya.
Sarjana dari Lingkungan Pesantren Pesisir
Aid tumbuh di lingkungan pesantren pesisir Sarang, wilayah yang dikenal kuat dengan tradisi keilmuan Islam. Sang ibu, yang pernah menjadi guru sekolah, memperkenalkannya pada buku cerita dan komik sejak kecil. Dari situlah kecintaannya terhadap bacaan tumbuh. Sementara ayahnya menanamkan pendidikan agama sekaligus kebiasaan berpikir kritis terhadap realitas sosial.
“Pengetahuan adalah candu bagi saya untuk mengenyangkan rasa penasaran,” katanya.
Meski mengaku tidak memiliki tantangan besar selama kuliah karena menikmati seluruh proses belajar, Aid tetap menyebut orang tua sebagai penyemangat utamanya.
“Pada akhirnya, saya sadar orang tua saya lah yang menunggu kesuksesan anaknya ini,” tuturnya.
Dari Anime ke Kehidupan Nyata
Di balik citra serius seorang mahasiswa tafsir, Aid ternyata menyimpan sisi unik: ia banyak terinspirasi dari tokoh-tokoh anime dan film. Bahkan ketika diminta memberi pesan kepada mahasiswa yang lebih muda, ia mengutip karakter dari anime Frieren.
“Buatlah jalan kalian sendiri dan jangan tergoncang oleh apa pun yang menghalangi. Ingat kata Frieren, ‘Karena pahlawan Himmel akan melakukannya’.”
Setelah wisuda, Aid berencana lebih dulu terjun ke dunia kerja sebelum melanjutkan studi magister. Namun satu hal tampaknya tidak berubah: kecintaannya pada pengetahuan dan literasi. Bagi Aid, gelar wisudawan terbaik mungkin memang bisa diukur dengan angka. Namun ia memilih memaknainya dengan cara lain: sebagai kumpulan pengetahuan, rasa ingin tahu, dan perjalanan panjang yang membentuk dirinya.
“Kalau boleh meromantisasi,” ujarnya sambil tersenyum, “angka itu adalah himpunan pengetahuan yang terkumpul dalam diri mahasiswa.”




