Arisy Abror Dzukroni, Peneliti Halal yang Bawa Isu Indonesia ke Panggung Dunia – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang – Sosok tenang dan sederhana itu tak pernah benar-benar membayangkan dirinya berdiri sebagai wisudawan terbaik. Namun kerja panjang, konsistensi akademik, dan ketekunan dalam riset akhirnya mengantarkan Arisy Abror Dzukroni, atau akrab disapa Abror, menjadi Wisudawan Terbaik Program Doktor pada prosesi Wisuda Periode Mei 2026 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Sabtu (23/5/2026), di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub.

Mahasiswa Program Doktor Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo itu mengaku penghargaan tersebut bukan target yang sejak awal ia kejar. Baginya, studi doktoral adalah perjalanan intelektual yang harus dijalani dengan kesungguhan dan konsistensi.

“Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik di setiap semester, mulai dari mengikuti perkuliahan dengan maksimal, publikasi artikel ilmiah di jurnal bereputasi, menghadiri konferensi internasional, hingga mengikuti summer school di luar negeri untuk memperkaya sudut pandang riset saya,” ujar Abror.

Menariknya, penghargaan kali ini terasa sangat personal bagi Abror. Pada jenjang sarjana dan magister sebelumnya, ia selalu berada di posisi “nyaris terbaik”—menjadi wisudawan terbaik kedua dengan IPK yang sama persis dengan peringkat pertama, hanya kalah selisih masa studi beberapa hari.

“Menjadi terbaik kedua ternyata memberikan sedikit rasa kecewa,” katanya sambil tersenyum.

Karena itulah, saat memasuki jenjang doktoral, ia memilih untuk tidak lagi terlalu memikirkan gelar wisudawan terbaik. Ia hanya fokus pada proses akademik dan memaksimalkan kesempatan langka menempuh pendidikan S3 dengan dukungan beasiswa.

“Penghargaan ini adalah bonus yang sangat saya syukuri,” ungkapnya.

Meneliti Transformasi Halal di Indonesia

Di balik capaian akademiknya, Abror dikenal sebagai peneliti muda yang serius menggarap isu halal di Indonesia dari perspektif yang tidak biasa. Disertasinya membahas transformasi epistemologi halal di Indonesia selama empat dekade terakhir.
Ia menemukan adanya perubahan cara pandang masyarakat terhadap konsep halal: dari prinsip al-aṣlu fi al-asyyā’ al-ibāḥah (hukum asal segala sesuatu adalah halal) menjadi al-aṣlu fi al-asyyā’ laisa bi al-ibāḥah (hukum asal segala sesuatu tidak halal).

Temuan itu memantik perdebatan akademik, termasuk di ruang sidang ujian disertasinya sendiri.

“Tentu temuan ini memunculkan pro dan kontra dari para akademisi dan penguji,” katanya.

Untuk membangun argumentasinya, Abror menggunakan pendekatan Constructivist Grounded Theory (CGT)—metode yang masih jarang dipakai dalam kajian hukum Islam. Ia melakukan wawancara dengan berbagai aktor halal, observasi lapangan, survei konsumen muslim, hingga menelusuri arsip pemberitaan Kompas dan Tempo sejak 1988.

Dari penelitian panjang tersebut, Abror melahirkan teori “Transformasi Epistemologis” sebagai tawaran baru dalam kajian sosiologi hukum Islam kontemporer.

Dari Belgia hingga Cambridge

Sebagai mahasiswa doktoral, Abror tidak hanya aktif di ruang kelas dan perpustakaan. Ia juga membawa gagasan akademiknya menembus forum internasional. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat mengikuti summer school di UCSIA Antwerpen, Belgia, dan menghadiri konferensi internasional di Cambridge University.

“Dukungan dari dosen dan rekan mahasiswa saat itu benar-benar menjadi pemacu untuk menghasilkan karya ilmiah yang layak diperbincangkan di panggung global,” tuturnya.

Aktivitas akademiknya juga diperkuat lewat organisasi Cakrawala Indonesia Bangkit cabang UIN Walisongo, komunitas para awardee beasiswa yang aktif mengembangkan kemampuan akademik dan sosial mahasiswa.

Bagi Abror, organisasi justru penting bagi mahasiswa pascasarjana selama mampu menunjang kapasitas intelektual.

“Bertemu dan bertukar pikiran dengan lingkup yang lebih luas dapat memperkaya sudut pandang dan kemampuan analitis,” jelasnya.

Abror menyebut perjalanan doktoral bukan sekadar soal kecerdasan, melainkan ketahanan mental dan konsistensi. Ia menggambarkan bagaimana seorang mahasiswa doktor harus bergulat dengan ratusan buku dan jurnal, revisi tanpa akhir, jadwal wawancara, observasi lapangan, hingga mempertahankan argumentasi di hadapan penguji.

“Studi doktor bukan tentang siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling konsisten dan tahan diuji,” tegasnya.

Di balik keteguhan itu, terdapat sosok ibu yang selalu menjadi sumber kekuatan hidupnya. Abror mengaku belajar tentang keteguhan dan kepercayaan diri dari sang ibu, sementara konsistensi dan kerendahan hati ia warisi dari almarhum ayahnya.

Keluarganya memang memiliki latar pendidikan yang kuat. Kedua orang tuanya adalah sarjana dengan tradisi pesantren yang kental. Namun bagi Abror, dukungan terbesar mereka bukan hanya soal fasilitas pendidikan, melainkan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

“Mereka tidak pernah memaksakan kehendak, tetapi selalu memberikan dukungan penuh terhadap keputusan yang saya pilih,” katanya.

Fokus pada Tujuan

Usai menuntaskan studi doktoralnya, Abror berencana mengabdikan diri sebagai dosen dan peneliti. Ia ingin terus menghadirkan riset-riset yang bukan hanya relevan secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat.

Kepada mahasiswa UIN Walisongo, ia menitipkan pesan sederhana namun mendalam:
“Teruslah fokus pada tujuan yang telah kamu tentukan, selalu perhatikan orang-orang yang telah berjasa padamu, dan berikan yang terbaik atas apa yang sedang kamu upayakan.”

Di tengah pencapaian akademik dan forum internasional yang telah ia lalui, Abror tetap memandang ilmu pengetahuan dengan rendah hati. Barangkali itu sebabnya, penghargaan wisudawan terbaik bukan sekadar simbol prestasi baginya, melainkan penanda perjalanan panjang seorang pencari ilmu yang tak pernah berhenti bertumbuh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *