FDK UIN Walisongo bersama Lapas Kelas I Semarang Perkuat Sinergi Pembinaan Warga Binaan melalui Smart Pesantren – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang  – Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang terus memperkuat komitmennya dalam melaksanakan pengabdian kepada masyarakat melalui kolaborasi strategis dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang dirangkaikan dengan Launching Smart Pesantren dan penarikan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro. Kegiatan berlangsung pada Selasa (21/7/2026) di Aula Pancasila Lapas Kelas I Semarang, Kedungpane.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Lapas Kelas I Semarang beserta jajaran, perwakilan Kementerian Agama Kota Semarang H. Tantowi Jauhari, S.S., pengasuh Pondok Pesantren Uswatun Khasanah, pengasuh Pondok Pesantren Al Muhajirin, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro, serta warga binaan yang tergabung sebagai santri Smart Pesantren.

Turut hadir jajaran pimpinan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang, yakni Dekan FDK UIN Walisongo Semarang Dr. Nasihun Amin, M.Ag., Wakil Dekan II Dr. Saerozi, M.Pd., Wakil Dekan III Dr. Siti Prihatiningtyas, M.Pd., serta Kepala Bagian FDK UIN Walisongo Semarang Munthoha, S.Ag. MM.

Kehadiran pimpinan FDK UIN Walisongo Semarang menjadi bentuk dukungan kelembagaan terhadap program pembinaan warga binaan, khususnya dalam aspek pendidikan, keagamaan, pendampingan, dan penguatan kapasitas personal. Melalui kerja sama ini, FDK UIN Walisongo berupaya mengambil peran dalam menghadirkan pembinaan yang edukatif, humanis, dan berkelanjutan.

Dekan FDK UIN Walisongo Semarang, Dr. Nasihun Amin, M.Ag., menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pemasyarakatan dalam mendukung proses pembinaan warga binaan.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemasyarakatan, termasuk mendukung proses pembinaan dan reintegrasi sosial warga binaan.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari, A.Md., IP., S.Sos., M.H., menyampaikan bahwa kerja sama dan launching Smart Pesantren diharapkan dapat membantu warga binaan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan serta memperoleh pembinaan yang lebih komprehensif.

Ia menjelaskan, nama Smart Pesantren dipilih karena warga binaan di Lapas Kelas I Semarang memiliki latar belakang agama yang beragam.

“Warga binaan di Lapas Kelas I Semarang tidak hanya beragama Islam, tetapi juga terdapat warga binaan yang beragama Kristen dan Buddha. Oleh karena itu, program ini dinamakan Smart Pesantren sebagai bentuk pembinaan yang memperhatikan keberagaman agama warga binaan,” jelasnya.

Penandatanganan PKS tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi antara Lapas Kelas I Semarang, perguruan tinggi, lembaga keagamaan, dan berbagai pihak terkait. Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan program pembinaan yang tidak hanya berfokus pada pembentukan karakter dan kepribadian, tetapi juga peningkatan keterampilan, kemandirian, serta kesiapan warga binaan untuk kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat.

Bagi FDK UIN Walisongo Semarang, kerja sama tersebut merupakan bagian dari implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. FDK berkomitmen untuk terus mengembangkan kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, pendampingan, dakwah, dan penguatan kapasitas manusia.

Penandatanganan kerja sama dan launching Smart Pesantren menjadi momentum penting dalam membangun model pembinaan yang lebih inklusif, kolaboratif, dan berorientasi pada reintegrasi sosial. Melalui sinergi lintas lembaga, diharapkan warga binaan memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan potensi diri dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *