UIN Walisongo Online, Semarang, – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Walisongo menggelar Pelatihan dan Workshop Kampus Ramah Difabel, 27-28 Agustus 2026. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Sidang Senat Lantai 4 Gedung Rektorat, dan diikuti diikuti dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa penyandang disabilitas.
Pelatihan dan Workshop tersebut akan berlangsung selama dua hari dengan tema berbeda pada setiap harinya. Hari pertama, Kamis (27/8/2026), mengangkat tema Workshop SOP Kampus Ramah Difabel, menghadirkan Wakil Rektor III Dr. Ummul Baroroh, M.Ag., yang memaparkan kebijakan UIN Walisongo sebagai kampus ramah difabel, serta Co Founder Pusat Layanan Disabel, Muhrisun, S.Ag., BSW., M.Ag., MSW., Ph.D., yang memandu penyusunan draf SOP bersama peserta.

Sementara hari kedua, Jumat (28/8/2026), mengusung tema Pelatihan Adaptasi Pembelajaran Ramah Difabel. Sesi ini diisi Ketua Komunitas Sahabat Mata, Basuki, dengan materi “Lesson Learned: Suara Difabel dalam Ruang Pembelajaran”, dilanjutkan praktik adaptasi pembelajaran ramah difabel bersama Co Founder Pusat Layanan Difabel, Andayani, SIP., MSW.
Ketua PSGA UIN Walisongo, Dr. Kurnia Muhajarah, menyampaikan bahwa kegiatan ini penting bagi PSGA untuk memperkuat perannya dalam isu disabilitas di lingkungan kampus. Selama ini, PSGA UIN Walisongo memang menaungi isu gender dan anak, namun ke depan cakupannya akan diperluas untuk secara khusus mengakomodasi kepentingan mahasiswa dan sivitas akademika penyandang disabilitas.
“Terima kasih atas kehadiran para peserta. Kami juga mengundang beberapa mahasiswa difabel, termasuk dosen yang memang konsen dalam hal disabilitas. Ke depan nama PSGA akan ditambah menjadi PSGAD, dan nanti kita susun bersama SOP-nya melalui kegiatan ini.”
Ia berharap SOP yang dihasilkan dari rangkaian kegiatan ini tidak berhenti sebagai dokumen administratif, melainkan benar-benar menjadi pedoman yang diterapkan oleh seluruh fakultas dan unit kerja di lingkungan UIN Walisongo.

Sementara itu, Wakil Rektor III UIN Walisongo, Dr. Umul Baroroh, M.Ag., dalam sambutannya ia menyinggung kesiapan sarana dan prasarana kampus bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
“Acara semacam ini sangat penting untuk dilaksanakan, karena UIN Walisongo sejak 2015 sudah menerima mahasiswa difabel, dan setiap tahunnya selalu ada yang mendaftar. UIN Walisongo membuka kesempatan bahwa pendidikan terbuka untuk semua orang, tidak membeda-bedakan.”
Ummul menambahkan, dari sisi sarpras, kampus juga telah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang bagi mahasiswa difabel.
“Kami sudah menyiapkan berbagai fasilitas, seperti trotoar, kursi roda, toilet, dan tangga, untuk mengakomodir kepentingan mahasiswa difabel. Ini merupakan bagian dari visi UIN Walisongo sebagai kampus kemanusiaan dan peradaban.”
Di akhir sambutannya, Ummul berpesan agar kepekaan terhadap kebutuhan mahasiswa difabel dapat tumbuh dari kesadaran bersama seluruh dosen dan tenaga kependidikan, bukan hanya berhenti pada kebijakan di atas kertas.
Rangkaian Pelatihan dan Workshop Kampus Ramah Difabel ini diharapkan menjadi langkah awal bagi UIN Walisongo Semarang dalam mewujudkan lingkungan akademik yang benar-benar inklusif dan setara bagi seluruh sivitas akademika, tanpa terkecuali.





