UIN Walisongo Online, Magelang – Tim Peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang kembali memperkuat akselerasi riset berbasis luaran praktis dengan menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terpumpun (Focus Group Discussion/FGD) bertajuk “Penyusunan Infografis Rekonstruksi Cerita Rakyat Nusantara sebagai Media Mitigasi Intoleransi Siswa Madrasah Ibtidaiyah di Indonesia” pada Jumat (28/8/2026). Kegiatan yang bertempat di Ruang Pertemuan SMP Negeri 1 Magelang ini menghadirkan kolaborasi aktif antara tim ahli perguruan tinggi, kepala sekolah, serta jajaran guru.
Riset strategis ini merupakan bagian dari program MoRA The AIR Funds (Awakening Indonesian Research Funds), yaitu skema bantuan pendanaan riset kolaboratif bergengsi antara Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Tim riset UIN Walisongo dipimpin oleh Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Ag. selaku Ketua Tim Riset, dengan anggota peneliti pakar yang terdiri atas Dr. Citra Rizky Lestari, M.Pd., Dr. Zulfa Fahmy, M.Pd., Rina Susi Cahyawati, M.Pd., serta Achmad Muchammad Kamil, M.Pd.
Mengubah Sastra Lisan Menjadi Visual Edukatif Ramah Anak
Ketua Tim Riset, Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Ag., memaparkan bahwa fase penyusunan infografis ini merupakan langkah krusial dalam mentransformasikan hasil rekonstruksi narasi sastra menjadi media pembelajaran yang adaptif terhadap gaya belajar siswa generasi Z dan Alpha di tingkat sekolah dasar maupun madrasah ibtidaiyah.
“Anak-anak usia dasar saat ini merupakan visual learners yang sangat peka terhadap warna, tata letak, dan narasi yang ringkas namun kuat. Rekonstruksi cerita rakyat Nusantara yang kaya akan nilai perjumpaan budaya, tenggang rasa, dan inklusivitas tidak akan efektif jika hanya disajikan dalam bentuk teks naratif yang panjang. Melalui media infografis ini, pesan-pesan penanaman toleransi dan pencegahan intoleransi kita kemas secara visual agar mudah dipahami, menarik, serta mengendap dalam imajinasi moral peserta didik,” ujar Prof. Syamsul.
Ia menambahkan bahwa infografis yang dirancang tidak sekadar menampilkan gambar ilustrasi, melainkan menyajikan alur cerita, pemetaan pesan moral, serta pemecahan masalah (conflict resolution) berperspektif perdamaian yang diambil dari berbagai cerita rakyat pilihan di Nusantara.
Apresiasi dan Inovasi Pembelajaran Karakter
Kepala SMP Negeri 1 Magelang, Dr. Ida Rianawaty, S.Si., M.Pd., dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap pendekatan riset UIN Walisongo yang dinilainya sangat aplikatif dan menjawab tantangan kebutuhan media ajar modern.
“Kami sangat bangga dan mendukung penuh kegiatan FGD penyusunan infografis ini. Tantangan terbesar pendidik di sekolah hari ini adalah menghadirkan pendidikan karakter dan toleransi tanpa terkesan menggurui. Media infografis berbasis cerita rakyat ini menjadi terobosan yang sangat menyegarkan. Guru-guru kami dapat memanfaatkan produk visual ini di kelas sebagai pemantik diskusi kritis siswa dalam memahami pentingnya menghargai perbedaan. Kolaborasi bersama UIN Walisongo yang didukung Kemenag dan LPDP ini membuktikan bagaimana riset akademis dapat langsung dirasakan manfaatnya di ruang-ruang kelas,” ungkap Dr. Ida.
Partisipasi Aktif Guru dan Target Luaran
Dalam sesi diskusi, jajaran guru yang hadir berpartisipasi aktif melakukan uji keterbacaan, validasi konten pedagogis, serta memberikan masukan praktis terkait estetika visual, komposisi warna, hingga penyesuaian bahasa agar ramah bagi psikologi perkembangan anak. Para peserta membedah beberapa draf awal prototipe infografis cerita rakyat Nusantara yang telah didekonstruksi dari elemen bias sosial maupun stereotip kedaerahan.
Luaran dari kegiatan FGD ini akan dirampungkan menjadi seri poster dan infografis edukatif digital maupun cetak yang dilengkapi dengan panduan penggunaan bagi guru (teacher’s guidebook). Produk riset ini diharapkan dapat direkomendasikan secara luas sebagai media pembelajaran pendamping dalam penguatan moderasi beragama, literasi kebudayaan, serta mitigasi intoleransi sejak dini di lingkungan madrasah ibtidaiyah dan sekolah dasar secara nasional.




