UIN Walisongo Online, Semarang – Suasana halaman dan berkah megah Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang mendadak riuh oleh antusiasme puluhan santri pada hari ini, Rabu (30/9/2026). Rombongan santri dari SMA Tahfidzul Qur’an menggelar kunjungan edukasi dan tadabbur alam yang interaktif. Tidak sekadar melihat simulasi bintang, para penghafal Kalam Ilahi ini diajak langsung menyelaraskan ayat-ayat kauniyah yang mereka hafalkan sehari-hari dengan realitas astronomi modern melalui pengamatan Matahari menggunakan teleskop canggih serta uji coba alat peraga roket air.
Memasuki area observatorium, para santri langsung diarahkan menuju kubah teleskop utama. Di bawah bimbingan para instruktur ahli, mereka bergantian mengintip keindahan sekaligus kedahsyatan aktivitas permukaan Matahari menggunakan teleskop khusus yang telah dilengkapi filter keamanan astronomi tinggi. Dari lensa teleskop, fenomena sunspots (bintik matahari) dan gejolak lidah api Matahari terlihat begitu nyata, memicu decak kagum tiada henti dari para santri.
Tak kalah seru, agenda kemudian bergeser ke area halaman terbuka observatorium untuk mempraktikkan eksperimen sains dengan Alat Peraga Roket Air. Menggunakan hukum tekanan udara dan aerodinamika dasar, para santri secara berkelompok merakit dan meluncurkan roket air buatan mereka sendiri ke angkasa. Sorak sorai pecah setiap kali ada roket yang berhasil melesat tinggi, merepresentasikan visualisasi sederhana dari prinsip dasar peluncuran roket luar angkasa yang sesungguhnya.
Salah satu guru pendamping dari SMA Tahfidzul Qur’an, Ustadz Ahmad Fauzi, S.Pd., mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya yang mendalam atas sambutan luar biasa dari pihak laboratorium terpadu. Menurutnya, pembelajaran kontekstual seperti ini memiliki dampak spiritual yang sangat besar bagi para santri tahfidz.
“Kami sehari-hari menemani santri menghafalkan ayat-ayat tentang penciptaan langit, peredaran Matahari, dan keteraturan alam semesta. Hari ini, di Observatorium UIN Walisongo, mereka tidak hanya membaca tetapi melihat langsung sebagian kecil dari tanda-tanda kebesaran Allah tersebut. Pengalaman memantau Matahari dengan teleskop dan mencoba roket air ini sungguh luar biasa; merangsang logika sains mereka sekaligus mempertebal keimanan serta kedekatan mereka terhadap Al-Qur’an,” ujar Ustadz Ahmad Fauzi dengan mata berbinar.

Kunjungan ilmiah yang inspiratif ini disambut hangat oleh pimpinan universitas. Kepala Laboratorium Terpadu UIN Walisongo Semarang, Dr. Muh Arif Royyani, Lc., M.S.I., menegaskan bahwa kehadiran generasi penghafal Al-Qur’an di fasilitas astronomi ini merupakan wujud nyata dari visi besar yang diusung oleh kampus hijau tersebut.
“Kami di UIN Walisongo sangat bangga dan menyambut terbuka kunjungan dari SMA Tahfidzul Qur’an ini. Planetarium dan Observatorium ini didirikan bukan hanya untuk riset internal, melainkan sebagai jembatan peradaban demi mengimplementasikan paradigma Unity of Sciences (Wahdatul Ulum). Kita ingin menunjukkan bahwa agama dan sains tidak bertentangan, melainkan saling menguatkan. Integrasi antara praktik teleskop dan roket air hari ini diharapkan mampu memantik api semangat para santri untuk menjadi ilmuwan muslim masa depan yang tidak hanya kokoh hafalan Al-Qur’annya, tetapi juga menguasai sains dan teknologi mutakhir,” tegasnya.
Kunjungan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama di depan gedung ikonik Planetarium dan Observatorium UIN Walisongo Semarang. Dengan membawa pulang wawasan baru mengenai sains antariksa dan pengalaman empiris yang berharga, para santri diharapkan dapat terus termotivasi untuk meneliti, mentadabburi, dan menjaga kelestarian alam semesta karunia Sang Pencipta.




