Dosen UIN Walisongo Presentasikan Kajian AI dan Otoritas Keagamaan dalam IDACON 2026 – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Yogyakarta — Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang, Fitri Ariana Putri bersama Usfiyatul Marfu’ah, mempresentasikan hasil penelitian mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam aktivitas dakwah pada ajang 10th International Da’wah Conference (IDACON), Rabu (30/9/2026), di Hotel Mustika Yogyakarta.

IDACON tahun ini mengusung tema “Da’wah, Humanity, and Global Coexistence: Repositioning Religion in a Fragmented World.”Tema tersebut menjadi benang merah seluruh rangkaian konferensi, mulai dari sesi pembukaan, keynote speech, plenary session, panel discussion, hingga presentasi paper. Rangkaian IDACON 2026 diawali dengan plenary session yang menghadirkan akademisi dan peneliti dari berbagai negara. Sesi tersebut menghadirkan sejumlah pembicara dengan perspektif yang beragam mengenai dakwah, kemanusiaan, ekologi, kesetaraan, dan kehidupan bersama dalam masyarakat yang semakin kompleks.

Plenary Sesion menghadirkan beberapapemateri yaitu Prof. Dr. Frans Wijsen dari Radboud University Nijmegen, Belanda, yang menyampaikan materi “Eco-Da’wah in a Fragmented World.” Perspektif lain disampaikan Shu-Hua Kang, Ph.D.dari National Taipei University, Taiwan, melalui tema “Building Social Recognition of Sexual Violence Survivors through Arts-Based Practices and Activism.”Selanjutnya, Dr. Nik Suhaida Nik Abdul Majid dari Universiti Sains Islam Malaysia membahas “Da’wah and Islamic Management in a Fragmented World: From Local Wisdom to Global Engagement.” Sementara itu, Prof. Siti Syamsiyatun, Ph.D. dari FDK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyampaikan kajian “Intergenerational Ecofeminist Da’wah: Strengthening Collaboration of Men and Women as Stewards of Ecological Justice for Healthier Coexistence.”

Keterlibatan dosen UIN Walisongo dalam konferensi internasional tersebut menjadi bagian dari kontribusi akademik FDK dalam memperluas kajian dakwah, khususnya dalam merespons perkembangan teknologi digital dan perubahan ekosistem komunikasi keagamaan.

Dalam forum tersebut, Fitri Ariana Putri dan Usfiyatul Marfu’ah mempresentasikan paper berjudul “Delegating Epistemic Functions to Artificial Intelligence: Ethical and Religious Authority Issues in AI-Based Da’wah Accounts.”

Penelitian tersebut mengkaji praktik pendelegasian aktivitas dakwah kepada AI oleh pengelola akun @hajar_official.s, khususnya dalam proses produksi pesan-pesan keagamaan. Kajian ini menyoroti penggunaan AI sebagai bagian dari proses produksi pesan dakwah serta persoalan etis dan epistemik yang muncul ketika proses tersebut belum disertai mekanisme pemeriksaan dan verifikasi yang memadai.

WhatsApp Image 2026 09 30 at 17.21.22

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi dan observasi daring. Data kemudian dianalisis menggunakan Critical Discourse Analysis (CDA) untuk melihat praktik produksi pesan keagamaan, validitas pengetahuan, serta relasi otoritas yang terbentuk melalui penggunaan AI sebagai media pendukung dakwah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendelegasian produksi pesan keagamaan kepada AI menimbulkan persoalan terkait validitas dan verifikasi pengetahuan keagamaan . Proses peninjauan dan verifikasi terhadap informasi yang dihasilkan AI masih menjadi persoalan sehingga berimplikasi pada legitimasi pengetahuan yang disampaikan kepada publik.

Di sisi lain, penelitian menunjukkan bahwa otoritas keagamaan tetap berada pada kreator akun, sedangkan AI berfungsi sebagai instrumen yang menjalankan instruksi kreator dalam proses produksi pesan. Dengan demikian, penggunaan AI tidak secara otomatis memindahkan otoritas keagamaan kepada teknologi, tetapi menghadirkan tantangan baru dalam proses produksi, validasi, dan penyebaran pengetahuan keagamaan.

“Penggunaan AI dalam dakwah perlu diikuti dengan tanggung jawab dalam memeriksa dan memverifikasi informasi keagamaan yang dihasilkan. Teknologi dapat membantu proses produksi pesan, tetapi validitas pengetahuan dan tanggung jawab atas pesan yang disampaikan tetap menjadi hal penting,” demikian salah satu pokok kajian dalam paper tersebut.

Penelitian ini juga menegaskan keterbatasan karena hanya berfokus pada satu akun dakwah sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasi pada seluruh akun dakwah yang menggunakan AI. Meski demikian, kajian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebijakan dan praktik dakwah berbasis media, sekaligus mendorong para praktisi dakwah untuk lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan AI.

Melalui forum internasional tersebut, FDK UIN Walisongo terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan kajian dakwah yang responsif terhadap perubahan zaman, sekaligus mendorong lahirnya perspektif akademik yang kritis, etis, dan relevan dengan tantangan masyarakat global.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *