UIN Walisongo Online, Semarang– Ma’had Al-Jamiah UIN Walisongo Semarang menggelar Haflah Akhirussanah Gelombang 3 pada Jumat (03/07/2026) yang bertempat di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo Semarang.
Kegiatan ini menjadi penutup masa pembinaan santri mahasiswa selama 4 bulan di Ma’had Al-Jamiah. Dengan jumlah Wisudawan 1265 santri putri, 13 santri putra, serta 61 musyrif dan musyrifah. Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor III Dr. Umul Baroroh, M.Ag.
Dalam sambutannya, Wakil Rektor III menegaskan bahwa kewajiban seluruh mahasiswa untuk mengikuti Ma’had memiliki tujuan strategis. Ma’had hadir untuk membekali mahasiswa tidak hanya dengan ilmu agama, tetapi juga membentuk 3 karakter utama: karakter santri, karakter cinta tanah air, dan karakter cinta almamater Universitas.
“Melalui Ma’had, UIN Walisongo ingin memastikan lulusannya memiliki fondasi keislaman yang kuat sekaligus loyalitas pada bangsa dan kampus,” ujarnya.

Tausiyah Abah Maghfurin: “4 Bulan di Ma’had”
Materi inti disampaikan oleh Abah Maghfurin dengan tema “4 Bulan di Ma’had”. Beliau menyampaikan beberapa poin penting:
1. Soal waktu: Jika punya niat yang kuat dan target jelas seperti hafalan, maka 4 bulan akan terasa sebentar. Namun jika merasa lama, itu bersifat relatif tergantung kesungguhan.
2. Niat menuntut ilmu: Mengutip Syeikh Azhar Nuji dalam Ta’lim Muta’alim, seluruh santri harus berniat untuk akhirat, bukan sekadar dunia.
3. Bekal ilmu dan akhlak: Ilmu yang dibarengi akhlak akan menjadi bekal masa depan yang lebih baik dan menjadikan seseorang lebih pantas ke depannya.
4. Memuliakan ilmu dan guru: Meneladani sikap Sayyidina Ali yang ekstrem dalam memuliakan ilmu dan gurunya. Musyrif-Musyrifah sebagai guru di Ma’had juga wajib dihormati.
5. Santri adalah sikap: Bagi santri lama, Ma’had menjadi penguat untuk melanjutkan masa kesantrian. Bagi santri baru, Ma’had menjadi latihan awal. “Santri itu bukan status atau formalitas, tapi sikap kesantrian yang harus kita miliki,” tegasnya.
6. Dukungan UIN: UIN Walisongo terus berupaya meningkatkan kehidupan beragama mahasiswa lewat Ma’had, meskipun sarana dan prasarana masih terus diupayakan.
7. Syarat dapat ilmu: Mengutip Syeikh Azhar Nuji, salah satu syarat mendapatkan ilmu adalah istiba’, yaitu sabar menjalani kehidupan dengan apa adanya.
Beliau menutup dengan pesan kuat: “Santri adalah selamanya santri, tidak ada mantan santri.”

Haflah Akhirussanah Gelombang 3 ini diikuti oleh seluruh santri Ma’had Al-Jamiah Gelombang 3 dan diharapkan menjadi titik awal pengamalan nilai-nilai kesantrian di tengah kehidupan kampus dan masyarakat.




