UIN Walisongo Online, Bandung, – Tim Cacha UIN Walisongo berhasil meraih Gold Medal dan IICYMS Grand Prize pada ajang internasional International Invention Competition for Young Moslem Scientists (IICYMS) 2026. Prestasi tersebut diraih melalui inovasi AI untuk konsultasi fiqh muslimah berbasis kitab Risalatul Mahid pada Jumat (10/07/2026).
Kompetisi internasional tersebut digelar di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Bandung, Indonesia, pada 6–10 Juli 2026. Tim Cacha UIN Walisongo menghadirkan inovasi berjudul “Cacha: Transforming Menstrual Fiqh an Intelligent Muslimah Assistant”, sebuah asisten digital berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dirancang untuk membantu muslimah memahami persoalan fiqh wanita secara mudah, interaktif, dan tetap berlandaskan sumber keilmuan Islam.
Anggota Tim Cacha terdiri atas lima mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan, yakni Zahwa Kamila dan Salsabila Saja Azizah dari Ilmu Falak, Faidlul Kamaliah dan Marwan Aldi Pratama dari Program Studi Teknologi Informasi, serta Arifin Fatturrohman dari Akidah Filsafat Islam.
Cacha dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi pengolahan teks berbasis kecerdasan buatan, di antaranya TF-IDF, Sentence-BERT, dan Cosine Similarity. Sistem ini menggunakan basis data sebanyak 300 pasangan pertanyaan dan jawaban terkait fiqh menstruasi yang telah melalui proses validasi oleh ahli di bidang hukum Islam.
Selain fitur chatbot fiqh menstruasi, Cacha juga dilengkapi dengan fitur pendukung seperti menstrual cycle tracker, pusat pembelajaran fiqh menstruasi (menstrual fiqh learning center), serta pembelajaran kontekstual (contextual learning preview) yang membantu pengguna memahami materi fiqh secara lebih interaktif.
Salah satu anggota tim, Zahwa Kamila dari Program Studi Ilmu Falak, mengatakan bahwa pengembangan Cacha berangkat dari kebutuhan masyarakat, khususnya muslimah, terhadap akses informasi fiqh wanita yang praktis namun tetap memiliki landasan keilmuan yang kuat.
“Cacha hadir sebagai upaya menghubungkan perkembangan teknologi dengan khazanah keilmuan Islam. Kami ingin memberikan kemudahan bagi muslimah dalam memahami persoalan menstruasi dan fiqh wanita melalui media digital, tetapi tetap mengacu pada referensi utama seperti kitab Risalatul Mahid,” ujar Zahwa.

Menurut Zahwa, proses pembuatan inovasi ini juga menjadi pengalaman penting karena melibatkan kolaborasi lintas disiplin. Perpaduan antara ilmu teknologi informasi dan kajian keislaman menjadi aspek utama dalam membangun sistem yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memiliki validitas akademik.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Cacha mampu memberikan respons yang relevan terhadap berbagai pertanyaan pengguna dengan capaian nilai cosine similarity sebesar 0,8296. Hasil tersebut menunjukkan kemampuan sistem dalam mencocokkan pertanyaan pengguna dengan referensi fiqh yang tersedia.
Wakil Dekan III Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Walisongo, M. Harun, turut menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih Tim Cacha. Ia menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa UIN Walisongo mampu menghasilkan karya inovatif yang memadukan nilai keislaman dengan perkembangan teknologi.
“Alhamdulillah, mahasiswa kita kembali berprestasi tingkat internasional. Mabruk alf mabruk. Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa UIN Walisongo memiliki kemampuan untuk menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dengan tetap menjaga nilai-nilai keilmuan Islam,” tuturnya.
Ke depan, Tim Cacha berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan dengan memperluas basis pengetahuan fiqh Islam dan meningkatkan kemampuan teknologi agar mampu menjadi media pembelajaran serta konsultasi digital yang lebih luas bagi masyarakat.




