Harus Segera Ditindaklanjuti – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Jakarta – Langkah strategis untuk mendefinisikan ulang arah masa depan studi Islam di Indonesia terus dimatangkan. Delegasi papan atas yang terdiri dari 21 Guru Besar (Profesor) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menghadiri Seminar Nasional bertajuk “Rekonstruksi Peradaban Islam Untuk Membangun Dunia Baru”. Acara prestisius yang menjadi rangkaian utama dari Festival Muharrom 2026 ini diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Selasa, 14 Juli 2026.

Dipimpin langsung oleh Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., kehadiran para pemikir puncak dari Kampus Hijau ini menjadi bukti komitmen kuat universitas dalam merespons tantangan zaman. Seminar berskala nasional ini dibuka dan diarahkan langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.

Tugas Suci PTKIN Menghadapi Dunia Baru

Dalam pidato kuncinya, Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memegang mandat moral yang sangat besar. Menag menyatakan bahwa PTKIN mengemban tugas suci untuk merancang dan membangun peradaban Islam yang kokoh di Indonesia.

Lebih lanjut, Menag mengingatkan bahwa khazanah ilmu-ilmu keislaman sejatinya telah berkembang dan teruji sejak berabad-abad yang lampau. Oleh karena itu, tantangan bagi para akademisi hari ini adalah bagaimana melakukan kontekstualisasi dan pengembangan studi Islam di era digital, namun dengan catatan mutlak tanpa meninggalkan teks-teks klasik (turats) yang telah diwariskan oleh para ulama terdahulu.

Respons Rektor: Relevansi Kampus Bergantung pada Pilihan Strategis Hari Ini

Gagasan besar dari Menteri Agama tersebut direspons secara taktis oleh Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag. Di sela-sela kegiatan seminar, Prof. Musahadi menegaskan bahwa arah baru yang ditawarkan oleh Menag harus segera ditindaklanjuti secara sistematis oleh seluruh jajaran PTKIN melalui langkah nyata, yakni merumuskan rancangan kurikulum yang memadai, adaptif, dan relevan.

“Revolusi digital telah mengubah lanskap masyarakat kita secara signifikan, tidak terkecuali masyarakat agama. Hari ini, relevan atau tidaknya sebuah PTKIN di mata publik sangat bergantung pada kemampuan institusi tersebut untuk mencandra (membaca), mendefinisikan, dan melakukan positioning (penempatan posisi) yang tepat terhadap arus perubahan itu sendiri,” ujar Prof. Musahadi.

Ia juga menambahkan bahwa potret peradaban Islam di masa depan ditentukan oleh kecerdasan, kearifan, serta keputusan-keputusan strategis yang diambil oleh dunia akademik saat ini. UIN Walisongo Semarang memandang bahwa rekonstruksi peradaban tidak boleh berhenti pada aspek digitalisasi semata.

“Tantangan global masa kini seperti isu eko-teologi dan sustainability development (pembangunan berkelanjutan) membutuhkan kerja keras dari seluruh komponen PTKIN. Kita harus bergerak bersama untuk mentransformasikan isu-isu kemanusiaan dan lingkungan tersebut menjadi visi utama masa depan kampus,” pungkas Rektor.

Kehadiran 21 Guru Besar UIN Walisongo Semarang dalam forum nasional ini menaruh harapan besar agar pemikiran yang dilahirkan di Hotel Borobudur dapat menjadi pemantik lahirnya kurikulum masa depan yang mampu menjaga tradisi sekaligus memimpin inovasi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *