Tim Periset MORA UIN Walisongo Kembangkan Model Deradikalisasi Berbasis Gender – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Makassar – Tim peneliti UIN Walisongo Semarang melaksanakan kegiatan penelitian dalam skema MORA Air Fund di Kota Makassar pada Kamis – Sabtu (6–8/08/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengembangan model deradikalisasi yang lebih inklusif dengan mengintegrasikan perspektif gender, sekaligus memperkuat kolaborasi antara akademisi, pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh agama, dan masyarakat.

Membuka kegiatan tersebut, Abdul Karim, M.Si., selaku Sekretaris LP2M UIN Walisongo Semarang, menegaskan bahwa setiap penelitian yang didanai melalui skema MORA Air Fund diharapkan menghasilkan luaran yang berkualitas, baik berupa publikasi ilmiah bereputasi internasional yang terindeks Scopus maupun produk penelitian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, penelitian tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi atas persoalan-persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

Ketua peneliti, Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag, menjelaskan bahwa penelitian ini telah memasuki tahun kedua pelaksanaan. Pada tahun pertama, tim peneliti memfokuskan kegiatan pada pemetaan persoalan, pengumpulan data, serta pendalaman berbagai perspektif mengenai deradikalisasi. Prof. Dr.M. Mudhofi, M.Ag., selaku anggota periset, menyampaikan bahwa perlu adanya model deradikalisasi berbasis gender. Model yang berbasis gender ini masih minim, sehingga menjadi inovasi bagi model serta modul dalam rangka deradikalisasi. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi tim untuk menghadirkan inovasi berupa model deradikalisasi yang lebih komprehensif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Untuk memperkaya hasil penelitian, kegiatan ini menghadirkan berbagai narasumber yang memiliki pengalaman langsung dalam penanganan isu radikalisme dan reintegrasi sosial, di antaranya Andi Marwan dari Lapas Makassar, Lukman dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) Makassar, Mochtar Daeng Lau sebagai tokoh agama, serta seorang mantan narapidana terorisme (napiter) perempuan yang berbagi pengalaman mengenai proses pembinaan dan kembali ke masyarakat. Kehadiran para narasumber memberikan perspektif yang beragam sehingga model yang dikembangkan diharapkan lebih kontekstual dan aplikatif.

Melalui penelitian ini, UIN Walisongo Semarang berkomitmen menghasilkan model deradikalisasi berbasis gender yang tidak hanya memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi rujukan bagi pemerintah, lembaga pemasyarakatan, lembaga pembinaan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun strategi pencegahan dan penanggulangan radikalisme yang lebih efektif, humanis, dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *