UIN Walisongo Online, Semarang — Gelaran Wisuda Program Doktor (S.3) ke-43, Program Magister (S.2) ke-68, dan Sarjana (S.1) ke-101 UIN Walisongo Semarang di Auditorium Kampus 3 pada Sabtu (22/8/2026) menghadirkan momen penuh kejutan dan keharuan. Salah satu kisah paling menginspirasi datang dari pemuda asli Sampangan, Semarang, bernama Abdul Aziz Ahmad Yasin (Yasin). Wisudawan dari Program Studi Akuntansi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) ini berhasil menyandang predikat wisudawan terbaik.
Kejutan Manis untuk Orang Tua dan Empathy Tanpa Batas
Berbeda dengan wisudawan pada umumnya, Aziz memilih untuk merahasiakan gelar lulusan terbaik ini dari siapa pun hingga panggung wisuda tiba. Ia sengaja menyimpannya sebagai kejutan manis bagi kedua orang tuanya yang selama ini mendidiknya menjadi sosok pejuang.
Sebagai anak sulung, Aziz memikul amanah besar untuk menjadi teladan bagi adik-adiknya. Hal menyentuh lainnya terlihat dari prinsip hidupnya terkait finansial. Meski dibiayai orang tua dan rutin bekerja sebagai pengajar Al-Qur’an metode Qiroati di sekolah serta TPQ, Aziz sengaja tidak mendaftar beasiswa kampus.
“Saya tidak berharap lebih untuk mendapatkan beasiswa, karena saya berpikir di luar sana masih banyak teman-teman yang jauh lebih membutuhkan beasiswa daripada saya,” tutur Aziz rendah hati.
Rahasia ‘Google Scholar’ dan Keseimbangan Aktivisme
Prestasi akademik Aziz dipupuk dari keberaniannya berdiskusi dan beradu argumen di kelas. Kunci perkembangan intelektualnya berawal dari nasihat berkesan dari salah satu dosennya, Prof. Musahadi. Kala itu, beliau menyarankan untuk mencatat setiap kata asing yang belum dipahami di ruang kuliah, lalu konsisten mencarinya di Google Scholar atau Sinta saat tiba di rumah. Metode inilah yang Aziz terapkan secara konsisten sepanjang masa studinya.
Keaktifannya di kelas berjalan seiring dengan dunia organisasi dan kerja lapangan. Aziz sempat mengemban amanah sebagai Ketua Komisariat organisasi ekstra kampus, sembari menyelesaikan magang selama 4 bulan sebagai asisten auditor di Kantor Akuntan Publik (KAP) Tarmizi Achmad.
Skripsi Audit dan Keistiqomahan Spiritual
Pengalaman magang tersebut memantapkan Aziz menyusun skripsi berjudul “Pengaruh Kompetensi, Independensi, dan Tekanan Anggaran Waktu terhadap Kualitas Audit dengan Etika Auditor sebagai Variabel Moderasi (Studi Empiris pada KAP di Kota Semarang)”. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa auditor di Semarang mampu mengendalikan tekanan waktu sehingga kualitas audit tetap terjaga dengan baik.
Di balik capaian akademisnya, Aziz memegang teguh paradigma Unity of Sciences dengan meyakini seluruh ilmu adalah milik Allah. Keistiqomahan ibadah seperti salat Tahajud, Duha, dan tadarus Al-Qur’an menjadi fondasi utamanya dalam menata niat menuntut ilmu.
Bagi Aziz, predikat lulusan terbaik bukanlah ajang kesombongan, melainkan amanah berat yang merepresentasikan akhlak UIN Walisongo di dunia nyata. Setelah wisuda, ia berencana mengambil pendidikan profesi Akuntan, melanjutkan studi S2 dan S3, serta mengejar sertifikasi Akuntan Publik (CPA).




