Perjuangan Mandiri Amel Tembus Predikat Wisudawan Terbaik UIN Walisongo – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang — Gelaran Wisuda Program Doktor (S.3) ke-43, Program Magister (S.2) ke-68, dan Sarjana (S.1) ke-101 UIN Walisongo Semarang di Auditorium Kampus 3 pada Sabtu (22/8/2026) menyajikan potret perjuangan yang luar biasa menggelegar. Di antara riuh kebahagiaan para wisudawan, nama Safina Najata Ameliyani (Amel), mahasiswi Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi (FST), menyita perhatian publik. Gadis asal Kota Semarang ini berhasil mematahkan keterbatasan ekonomi hingga dinobatkan sebagai salah satu lulusan terbaik.

Tetes Air Mata Kebahagiaan dan Pelukan Tangis Orang Tua

Kabar kelulusan Amel sebagai wisudawan terbaik menjadi momen penuh haru. Orang pertama yang ia kabari adalah kedua orang tuanya, yang seketika menangis dan memeluk erat putri sulungnya tersebut. Bagi keluarga Amel, melihatnya bisa menuntaskan masa kuliah secara tepat waktu di tengah badai perjuangan finansial sebenarnya sudah merupakan kebahagiaan tak terhingga.

Pencapaian ini tergolong ajaib bagi Amel. Sebelum mendaftar wisuda periode Agustus 2026, ia mengaku sempat hampir putus asa dan kelelahan saat mengejar target sidang skripsi di bulan Juni 2026.

“Bisa lulus tepat waktu sebenarnya sudah menjadi kebahagiaan luar biasa bagi saya. Menjadi wisudawan terbaik bukanlah target saya sejak awal kuliah, tetapi bonus indah dari Allah atas proses perkuliahan yang sudah saya jalani,” tutur Amel rendah hati.

Anak Sulung yang Mandiri: Jadi Kasir Angkringan demi Membantu 4 Adik

Kisah di balik ruang kelas Amel penuh dengan cucuran keringat. Sebagai anak pertama dari lima bersaudara, Amel menyadari betul beban orang tuanya. Demi membantu meringankan biaya kuliah dan menopang kebutuhan pendidikan empat adiknya yang masih sekolah, Amel tidak segan melakoni berbagai pekerjaan.

Separuh dari biaya kuliahnya diusahakan sendiri lewat jerih payahnya. Pada akhir pekan, ia bekerja sebagai kasir di sebuah angkringan. Tak hanya itu, di sela rutinitas akademik, Amel juga menjadi guru les privat untuk anak SD, guru ngaji di TPQ setempat, serta sempat magang di PT Beckjorindo.

Di bidang kemahasiswaan, Amel tergolong aktif sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Biologi dan relawan di Koperasi Mahasiswa (Kopma). Bagi Amel, keaktifan berorganisasi dan bekerja bukan penghambat IPK, melainkan wadah belajar mengasah empati, komunikasi, serta manajemen waktu.

Inspirasi Keteladanan Orang Tua

Etos kerja pantang menyerah tersebut diwarisi Amel dari sejarah perjuangan orang tuanya yang luar biasa. Ayah Amel dulunya merupakan lulusan SD yang mengabdi di pondok pesantren. Ketika merantau ke Semarang, sang ayah pernah bekerja sebagai tukang sapu. Demi mengubah nasib, ayahnya menuntaskan pendidikan Kejar Paket C, berhasil lolos seleksi CPNS, dan bahkan menuntaskan S1 di usia 40 tahun. Sementara sang ibu juga merupakan sosok tangguh yang menuntaskan kuliah di UIN Walisongo sambil bekerja mandiri tanpa didampingi sosok ayah.

“Dari kedua orang tua, saya belajar bahwa keterbatasan ekonomi dan tantangan hidup bukanlah alasan untuk berhenti belajar. Saya selalu ingat perjuangan mereka dalam menyekolahkan saya dan adik-adik. Hal itu yang menguatkan saya saat merasa ingin menyerah,” kenang Amel.

Implementasi Unity of Sciences dan Kelestarian Alam

Dalam tugas kerjanya, Amel menyusun skripsi mengenai taksonomi dan diversitas tumbuhan famili Asteraceae di sepanjang jalur trekking Curug Lawe Benowo. Riset ini dilatarbelakangi oleh belum adanya pendokumentasian ilmiah spesifik terkait potensi keragaman hayati Asteraceae di wilayah wisata tersebut.

Melalui kacamata paradigma Unity of Sciences UIN Walisongo, Amel tidak sekadar menganalisis kemiripan morphologi dan kekerabatan taksonomi tumbuhan, tetapi juga mengaitkan fenomena keanekaragaman flora tersebut dengan ayat-ayat Al-Qur’an tentang keagungan ciptaan Allah SWT.

Pandang Titik Depan: Bersiap Berburu Beasiswa S2

Bagi Amel, predikat wisudawan terbaik adalah amanah moral untuk terus belajar dan menjaga nama baik almamater. Usai meraih gelar Sarjana Sains (S.Si), Amel bersiap mematangkan diri bekerja sembari berburu beasiswa studi lanjut jenjang Magister (S2).

Ia pun menitipkan pesan hangat bagi mahasiswa UIN Walisongo yang sedang berjuang di tengah keterbatasan.

“Jangan pernah menunggu keadaan sempurna untuk mulai berusaha. Libatkan doa orang tua di setiap langkah. Menjadi wisudawan membanggakan tidak harus selalu jadi lulusan terbaik, tetapi sejauh mana ilmu yang kita dapatkan mampu memberikan manfaat nyata bagi sesama,” pesan Amel menutup wawancaranya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *