Kisah Perjuangan Dr. Nasikhin dari Beras Kondangan Hingga Panggung S3 UIN Walisongo – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang — Panggung Wisuda UIN Walisongo Semarang pada Sabtu (22/8/2026) menjadi saksi momen langka dan emosional bagi pasangan suami istri, Dr. Nasikhin dan Baiti Al Ami. Tidak hanya berhasil wisuda bersama, keduanya mengukir sejarah prestasi luar biasa: Nasikhin dikukuhkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Doktor (S.3) sekaligus Peneliti Disertasi Terbaik, sedangkan sang istri, Baiti Al Ami, berhasil menyelesaikan Magister (S.2) Pendidikan Agama Islam (PAI) hanya dalam waktu 3 semester.

Bagi Nasikhin, momen berdiri di panggung wisuda ini merupakan pencapaian hat-trick yang tak terlupakan. Sejak jenjang S.1 pada 2017, S.2 pada 2021, hingga S.3 pada 2026, pria asal Desa Sangubanyu ini selalu dipercaya duduk di kursi depan jajaran wisudawan terbaik UIN Walisongo Semarang.

“Air mata saya tumpah karena sejak 2017, 2021, sampai hari ini 2026, Allah selalu menaruh saya di tempat yang sama: kursi terdepan sebagai lulusan terbaik. Dari 2.000-an wisudawan, nama saya dipanggil pertama,” ungkap Nasikhin penuh haru.

Kuliah S2 Sambil Momong Anak dan Bukti Inklusivitas Kampus

Keberhasilan Baiti Al Ami menuntaskan S.2 PAI dalam waktu singkat 3 semester menjadi potret inspiratif tersendiri. Di tengah padatnya perkuliahan, Baiti tetap menjalankan perannya sebagai ibu bagi putri mereka yang berada di masa golden age.

Berkat dorongan dosen pembimbing dan atmosfer kampus UIN Walisongo yang inklusif, pengalaman mengasuh anak di tengah rutinitas kuliah justru diangkat Baiti menjadi topik tesisnya.

“Bojoku kalau kuliah sambil membawa anak kadang khawatir mengganggu yang lain. Namun karena kampus kita inklusif, dosen pembimbing mengarahkan agar pengalaman itu dijadikan tema tesis. Hikmahnya, ini jadi bukti bahwa yang kuliah sambil bawa anak saja bisa lulus 3 semester, apalagi yang masih fresh,” puji Nasikhin atas ketangguhan istrinya.

Kunci keberhasilan pasutri ini terletak pada manajemen waktu yang solid dan prinsip support system secara sadar (by design). Mereka bergantian mengasuh anak dan membagi waktu mengerjakan tugas akhir saat sang buah hati tidur.

“Kita usahakan saling support agar usaha meraih gelar tidak sedikit pun mengganggu tumbuh kembang anak. Tugas akhir jalan, tapi perhatian penuh ke anak adalah hal wajib,” tambahnya.

WhatsApp Image 2026 08 23 at 19.46.08

Lika-liku Awal Nikah: Dari Beras Kondangan Hingga Ban Motor Kempes

Pencapaian manis hari ini lahir dari proses panjang yang penuh keprihatinan. Nasikhin mengenang masa-masa awal pernikahan mereka ketika ia masih berstatus mahasiswa S.2 dan Baiti baru lulus S.1 dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas.

Di fase awal, mereka harus bertahan hidup dengan mengonsumsi “beras kondangan” sisa yang berkutu, ditumis menggunakan kecap dan telur dibagi dua. Dalam satu tahun, mereka harus berpindah kontrakan sebanyak tiga kali karena tidak kuat membayar sewa, hingga membeli setrika bekas seharga Rp15 ribu.

Tak hanya itu, dengan gaji mengajar sebagai guru sebesar Rp700 ribu per bulan, Nasikhin sering kali harus menuntun sepeda motornya yang langganan bocor ban karena terbatasnya biaya tambal.

“Waktu itu kami memegang satu prinsip: Kami berdua meyakini bahwa menikah adalah ibadah, mencari ilmu untuk kebenaran juga ibadah. Jadi yakin Allah pasti memberikan kemudahan bagi orang yang kuat dan bersabar. Setiap lelah dan pusing, kami bilang ini pahala berlipat-lipat,” kenang Nasikhin.

Panen Keberkahan dan Deretan Prestasi Akademik

Kesabaran dan kerja keras pasangan ini akhirnya membuah hasil yang manis. Selain kemandirian ekonomi yang terus membaik dengan kepemilikan rumah, kendaraan, dan usaha mandiri, kran prestasi akademik meluncur deras.

Pada jenjang doktor yang diikuti oleh 48 lulusan S.3 dalam periode wisuda ini, Nasikhin berhasil mengukir reputasi internasional dengan menulis 12 naskah jurnal bereputasi Scopus serta menjalin kolaborasi penelitian dengan berbagai perguruan tinggi di Thailand, Kamboja, Brunei Darussalam, hingga Malaysia. Disertasinya yang dibimbing oleh Prof. Fatah dan Prof. Mahfud dinobatkan sebagai Disertasi Terbaik se-UIN Walisongo.

“Hari ini menjadi bukti bahwa menikah saat kuliah bukanlah masalah, melainkan jalan yang penuh keberkahan. Terima kasih untuk orang tua, dosen, dan Baiti yang selalu jadi rumah dan madrasah pertama anak kami. Ini bukan garis finish, melainkan garis start untuk mengabdi lebih luas bagi masyarakat,” tutup Dr. Nasikhin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *