Riset EIT Portabel UIN Walisongo Raih Capaian di Atas 80 Persen dalam Monev MoRA The AIR Fund – UIN Walisongo

UNI Walisongo Online; Semarang – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo Semarang menggelar Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penelitian MoRA The AIR Fund Tahun 2025-2026, Rabu (9/9/2026). Salah satu riset yang dievaluasi adalah pengembangan sistem Electrical Impedance Tomography (EIT) portabel untuk memantau aktivitas neurogastrik selama puasa Ramadan dan intermittent fasting, yang hasil sementaranya menunjukkan capaian di atas 80 persen.

Kegiatan berlangsung di Ruang Rapat Rektorat Lantai 3 UIN Walisongo Semarang, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Monev menghadirkan reviewer eksternal Prof. Dr. Hafsan, M.Pd., bersama Tim LP2M UIN Walisongo dan tim peneliti yang diketuai Prof. Dr. Musahadi, M.Ag. Acara dibuka oleh Ketua LP2M UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Abdul Ghofur, M.Ag.

Riset EIT portabel tersebut mengusung pendekatan inovatif untuk memantau aktivitas neurogastrik dalam konteks puasa Ramadan dan intermittent fasting. Dalam sesi pemaparan, tim peneliti melaporkan perkembangan riset serta capaian luaran, mulai dari pengembangan prototipe, proses validasi, publikasi ilmiah, buku, infografis, hingga pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Abdul Ghofur menegaskan, monev bukan sekadar tahapan administratif dalam siklus pendanaan penelitian, melainkan instrumen untuk memastikan riset berjalan sesuai target dan menghasilkan luaran yang bermanfaat nyata bagi masyarakat.

“Monitoring ini penting untuk memastikan pelaksanaan riset berjalan sesuai dengan rencana dan target yang telah ditetapkan. Kami ingin melihat sejauh mana capaian tim peneliti sekaligus memastikan luaran yang dihasilkan benar-benar memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat,” kata Abdul Ghofur.

Perlu Validasi Medis Lebih Lanjut

Reviewer eksternal, Hafsan, menyatakan sejumlah indikator utama penelitian—mulai dari prototipe alat, publikasi ilmiah, buku, infografis, hingga proses HKI—telah mencapai lebih dari 80 persen. Konsistensi pelaksanaan riset dengan proposal awal juga dinilai positif, dengan hasil sementara yang sejalan dengan hipotesis awal tim peneliti.

Meski demikian, Hafsan menekankan perlunya penguatan validasi eksternal dari sisi medis, khususnya dari pakar fisiologi dan gastrologi, agar interpretasi klinis hasil EIT semakin kuat.

“Progres penelitian ini sudah sangat baik dan hasilnya sejalan dengan hipotesis yang diajukan. Namun, perlu ada penguatan validasi eksternal dari sisi medis, khususnya pakar fisiologi dan gastrologi, agar interpretasi klinis hasil EIT semakin kuat,” ujar Hafsan.

Ia menilai, kolaborasi dengan pakar fisiologi dan gastrologi akan memperkuat validasi sekaligus memperluas potensi pemanfaatan teknologi tersebut, sehingga hasil riset memiliki kematangan teknis sekaligus dasar ilmiah yang lebih kokoh untuk diarahkan pada aplikasi kesehatan.

Bagian dari Ekosistem Riset Berkelanjutan

Monev MoRA The AIR Fund 2025-2026 merupakan bagian dari upaya LP2M UIN Walisongo membangun ekosistem penelitian yang terukur, berkualitas, dan berorientasi dampak. Evaluasi berkala ini memungkinkan tim peneliti memperoleh umpan balik konstruktif sekaligus memastikan akuntabilitas akademik atas dukungan pendanaan yang diterima.

Selain memastikan pemenuhan target luaran, proses monev juga menjadi momentum untuk mengidentifikasi peluang pengembangan riset ke tahap berikutnya, baik melalui penguatan publikasi, pengurusan HKI, kolaborasi lintas disiplin, maupun hilirisasi hasil penelitian.

LP2M UIN Walisongo Semarang menegaskan komitmennya menjadikan penelitian sebagai fondasi utama pengembangan keilmuan di perguruan tinggi, dengan harapan riset-riset inovatif seperti EIT portabel dapat terus berkembang menjadi karya akademik yang berkontribusi bagi ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemecahan persoalan nyata di masyarakat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *