UIN Walisongo Online, Semarang – Sebanyak 896 mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang mengikuti Program Pengenalan Lapangan Persekolahan II (PLP II) pada Selasa (29/09/2026) sebagai bagian dari proses pembentukan calon pendidik profesional yang memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Program ini dirancang untuk menghadirkan pengalaman nyata di sekolah agar mahasiswa tidak hanya memahami teori pendidikan di ruang kuliah, tetapi juga mampu mengimplementasikan pembelajaran secara langsung di lingkungan pendidikan.
PLP II Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027 dilaksanakan melalui kolaborasi antara FTIK UIN Walisongo Semarang, sekolah/madrasah/TK/RA mitra, dosen pembimbing lapangan, serta guru pamong. Program ini menjadi tahapan lanjutan setelah PLP I dengan fokus pada penguatan kemampuan mahasiswa dalam memahami kurikulum, perangkat pembelajaran, strategi mengajar, asesmen, pengelolaan kelas, hingga praktik pembelajaran terbimbing.
Menjembatani Teori Kampus dengan Realitas Pembelajaran di Sekolah
Pendidikan calon guru tidak cukup hanya dibangun melalui pemahaman konsep dan teori pembelajaran. Tantangan pendidikan di sekolah menuntut calon pendidik memiliki kemampuan adaptasi, komunikasi, kreativitas, serta kemampuan membaca kebutuhan peserta didik secara langsung. Melalui PLP II, mahasiswa FTIK UIN Walisongo Semarang memperoleh kesempatan untuk mengalami proses pendidikan dalam konteks nyata bersama guru dan peserta didik.
Buku Panduan PLP II FTIK UIN Walisongo menjelaskan bahwa program ini merupakan tahapan penyiapan guru profesional melalui kegiatan pengamatan proses pembelajaran, pengembangan perangkat pembelajaran, praktik mengajar terbimbing, serta refleksi di bawah bimbingan dosen pembimbing lapangan dan guru pamong.
Pelaksanaan PLP II Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027 melibatkan berbagai sekolah dan lembaga pendidikan mitra di wilayah Semarang dan sekitarnya. Berdasarkan Surat Keputusan Rektor/KPA UIN Walisongo Semarang Nomor 955/Un.10.3/D/DA.04.10/09/2026, dosen pembimbing lapangan ditugaskan untuk mengarahkan dan membimbing mahasiswa PLP II agar kegiatan berjalan tertib dan bertanggung jawab.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga terlibat dalam berbagai aktivitas akademik sekolah. Mereka mempelajari kurikulum yang digunakan, perangkat pembelajaran guru, strategi pembelajaran, asesmen, penggunaan teknologi informasi, penyusunan media pembelajaran, hingga praktik mengajar.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah mitra menjadi kunci keberhasilan program ini. Sekolah memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar dari praktik pendidikan yang sesungguhnya, sementara mahasiswa juga diharapkan mampu memberikan kontribusi melalui gagasan, kreativitas, dan inovasi pembelajaran. Dengan demikian, PLP II menjadi jembatan yang memperkuat hubungan antara teori di perguruan tinggi dan kebutuhan nyata pendidikan di lapangan,”Prof. Dr. Abdul Rohman, M.Ag

Menurut panduan PLP II, program ini merupakan bagian penting dalam upaya FTIK sebagai lembaga pendidikan tenaga kependidikan untuk menghasilkan calon pendidik profesional yang memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
Pengalaman Lapangan sebagai Ruang Pembelajaran Profesional Calon Guru
PLP II tidak hanya menjadi kegiatan praktik mengajar, tetapi juga menjadi ruang pembentukan identitas profesional mahasiswa sebagai calon pendidik. Melalui interaksi dengan guru pamong, peserta didik, dan lingkungan sekolah, mahasiswa belajar memahami bahwa proses pendidikan melibatkan aspek akademik, sosial, psikologis, dan budaya.
Dalam program ini, mahasiswa diarahkan untuk menyusun perangkat pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka, mengembangkan media pembelajaran inovatif, menerapkan strategi pembelajaran interaktif, melakukan evaluasi hasil belajar, serta menyusun artikel ilmiah berdasarkan pengalaman reflektif selama kegiatan PLP II.
Selain pengalaman mengajar, mahasiswa juga mendapatkan pembimbingan secara intensif. Dosen pembimbing lapangan melakukan pembimbingan minimal tiga kali di sekolah mitra, sementara guru pamong memberikan pendampingan melekat selama mahasiswa menjalankan kegiatan PLP II.
Sistem pembinaan ini dirancang agar mahasiswa mampu mengenali berbagai persoalan pembelajaran di sekolah sekaligus menemukan alternatif solusi melalui refleksi dan diskusi bersama pembimbing.
“PLP II bukan hanya tentang praktik mengajar, tetapi juga proses pembentukan karakter dan tanggung jawab sebagai seorang pendidik. Mahasiswa perlu menjadikan pengalaman di sekolah sebagai ruang refleksi untuk terus belajar, berinovasi, dan memahami bahwa profesi guru memiliki peran strategis dalam membangun masa depan generasi bangsa.”, Dr. Ahmad Muthohar, M.Ag.
Kegiatan PLP II juga menjadi bagian dari sistem penjaminan mutu pembelajaran calon guru. Penjaminan mutu program PLP dilakukan melalui penetapan standar, implementasi, monitoring, evaluasi, audit mutu, serta tindak lanjut peningkatan kualitas program secara berkelanjutan.
Berdasarkan panduan penilaian, kualitas mahasiswa selama PLP II dievaluasi melalui beberapa komponen, yaitu penilaian guru pamong terhadap kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional sebesar 50 persen; penilaian dosen pembimbing terhadap kompetensi, perangkat pembelajaran, praktik pembelajaran, dan artikel sebesar 40 persen; serta laporan PLP II sebesar 10 persen.
Membentuk Guru Masa Depan melalui Refleksi dan Kolaborasi
Pengalaman PLP II memberikan pelajaran bahwa kualitas pendidikan sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menghubungkan pengetahuan, keterampilan mengajar, teknologi, dan pemahaman terhadap karakter peserta didik. Sekolah menjadi ruang belajar kedua bagi mahasiswa calon guru untuk memahami kompleksitas profesi pendidik.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah mitra menjadi elemen penting dalam memastikan calon guru memperoleh pengalaman yang autentik. Melalui proses ini, mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana mengajar, tetapi juga memahami bagaimana membangun hubungan pendidikan yang bermakna dengan peserta didik.
“Pelaksanaan PLP II membutuhkan persiapan yang matang karena kegiatan ini bukan hanya berkaitan dengan penempatan mahasiswa di sekolah mitra, tetapi juga memastikan adanya kesesuaian antara kebutuhan mahasiswa, kesiapan sekolah, serta tujuan akademik yang ingin dicapai. Laboratorium Pendidikan berupaya mengelola seluruh tahapan secara sistematis, mulai dari pendataan mahasiswa, koordinasi dengan sekolah mitra, pembekalan mahasiswa, hingga penyamaan persepsi dengan dosen pembimbing lapangan dan guru pamong.”Mustakimah, M.Pd
Sebagai pengelola program, Laboratorium Pendidikan FTIK memiliki peran dalam merencanakan, mengoordinasikan, dan memastikan keberlangsungan pelaksanaan PLP II. Perencanaan tersebut mencakup penyusunan mekanisme kegiatan, penetapan jadwal, koordinasi dosen pembimbing, penyusunan panduan, kerja sama dengan sekolah mitra, hingga pembekalan peserta.
Ke depan, pengalaman PLP II dapat menjadi fondasi penting bagi pengembangan pendidikan guru yang semakin responsif terhadap kebutuhan sekolah. Melalui refleksi pengalaman lapangan, mahasiswa diharapkan mampu membawa semangat inovasi, kepedulian terhadap peserta didik, serta komitmen profesional ketika memasuki dunia pendidikan.
PLP II bukan sekadar praktik mengajar, tetapi proses pembentukan calon pendidik yang belajar memahami bahwa menjadi guru berarti menghadirkan pengetahuan, keteladanan, dan perubahan bagi generasi mendatang.




