UIN Walisongo Online, Jakarta – Masjid memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi tempat pelaksanaan ibadah ritual. Masjid dapat menjadi pusat pendidikan, pemberdayaan masyarakat, penguatan persaudaraan, hingga ruang strategis untuk membangun perdamaian dunia.
Pandangan tersebut disampaikan Rektor UIN Walisongo Semarang dalam rangkaian International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang berlangsung pada Jumat – Senin (25–28/09/2026) dengan mengusung tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace.”
Konferensi internasional ini mempertemukan para imam besar masjid dari lebih dari 42 negara, para mufti, akademisi, intelektual, serta seluruh pengurus Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) bersama para imam besar dari berbagai provinsi di Indonesia.
Menurut Rektor UIN Walisongo, pertemuan tersebut memiliki arti penting karena mempertemukan para tokoh yang memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat dan memiliki kekuatan moral melalui mimbar agama.
“Peran masjid sesungguhnya sangat besar, bahkan jauh lebih besar dari yang selama ini diekspektasikan oleh umat. Masjid bukan hanya tempat ibadah spiritual. Masjid dapat menjadi pusat pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan ruang untuk membangun persaudaraan antarmanusia,” ujar Rektor.
IGIC 2026 dan Gerakan Moral Perdamaian
Rektor menegaskan, IGIC 2026 tidak semestinya dipahami hanya sebagai forum konferensi internasional yang mempertemukan para imam dari berbagai negara. Lebih jauh, forum ini harus mampu melahirkan gerakan moral yang menegaskan kembali posisi agama sebagai kekuatan untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan dunia.
Masjid, menurutnya, memiliki posisi strategis dalam mewujudkan gagasan tersebut. Masjid dapat menjadi ruang pendidikan nilai, pemberdayaan sosial, penguatan solidaritas, sekaligus tempat membangun komunikasi dan persaudaraan di tengah masyarakat yang semakin kompleks.
“IGIC 2026 tidak hanya forum konferensi, tetapi harus melahirkan gerakan moral bahwa agama harus menjadi solusi terhadap berbagai persoalan dunia. Masjid menjadi pusat pendidikan, pusat pemberdayaan, dan ruang membangun persaudaraan antarumat,” tegasnya.
Ia kemudian merumuskan sebuah alur yang menggambarkan bagaimana masjid dapat berkontribusi terhadap perdamaian global.
“Dari masjid kita membangun harmoni, dari harmoni kita membangun dialog, dari dialog kita membangun persaudaraan, dari persaudaraan kita membangun kepercayaan dunia.”
Menurutnya, harmoni merupakan fondasi awal bagi terciptanya dialog. Dialog yang sehat kemudian membuka ruang bagi tumbuhnya persaudaraan, sedangkan persaudaraan menjadi modal sosial untuk membangun kepercayaan antarmanusia dan antarbangsa.
Imam Lima Kali Sehari Bersentuhan dengan Umat
Peran strategis masjid tidak dapat dilepaskan dari keberadaan imam. Rektor menilai imam masjid memiliki posisi unik karena intensitas interaksinya dengan masyarakat sangat tinggi.
“Imam masjid sangat penting karena minimal lima kali sehari bertemu dengan umat. Imam adalah orang yang secara sosial lebih sering bersentuhan dengan masyarakat dibanding pemerintah,” ungkapnya.
Kedekatan tersebut membuat imam memiliki pengaruh moral yang kuat. Apa yang disampaikan dari mimbar masjid didengar oleh umat, sementara perilaku imam dalam kehidupan sehari-hari juga dapat menjadi teladan.
“Lisannya lebih sering didengarkan umat, akhlaknya lebih sering dijadikan uswah oleh umat. Karena itu, imam masjid memiliki kontribusi yang sangat besar terhadap persoalan umat, persoalan kemanusiaan, dan persoalan lingkungan,” lanjutnya.
Posisi tersebut membuat imam tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam membimbing pelaksanaan ibadah, tetapi juga memiliki ruang yang luas untuk membangun kesadaran sosial dan kemanusiaan.
Dalam konteks inilah, imam dapat memainkan peran penting dalam merespons berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Menghadirkan Diplomasi Nurani
Rektor juga menyoroti keterbatasan diplomasi formal dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan. Tidak semua konflik dan persoalan sosial dapat diselesaikan melalui pendekatan politik, hukum, ekonomi, atau diplomasi antarpemerintah.
“Banyak persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan bahasa dan diplomasi formal,” ujarnya.
Pada titik tersebut, imam dan tokoh agama dapat menawarkan pendekatan yang berbeda, yakni pendekatan yang menyentuh kesadaran dan hati manusia.
“Karena itu, imam berusaha menawarkan solusi lain, pendekatan lain dengan bahasa nurani, bahasa kemanusiaan. Kemanusiaan itu hanya satu,” tegasnya.
Bahasa nurani dan kemanusiaan, menurut Rektor, memiliki daya jangkau yang melampaui batas negara, etnis, budaya, dan kepentingan politik. Nilai kemanusiaan dapat menjadi titik temu ketika manusia menghadapi persoalan bersama.
Membangun Jejaring Imam untuk Perdamaian Dunia
IGIC 2026 juga dinilai memberikan manfaat strategis dalam membangun jejaring antarpemimpin masjid dan imam dari berbagai negara.
Jejaring tersebut diharapkan menjadi modal penting untuk memperkuat pertukaran gagasan, pengalaman, dan praktik baik dalam pengelolaan masjid serta memperluas pesan perdamaian melalui mimbar agama.
“IGIC 2026 memberikan manfaat dalam membangun jaringan antarpara imam. Kita berharap suara para imam dari mimbar agama dapat membawa pesan persaudaraan, pesan perdamaian kepada seluruh umat manusia,” kata Rektor.
Dengan jejaring yang semakin kuat, para imam dapat saling belajar sekaligus membangun kesepahaman tentang bagaimana agama dapat berkontribusi terhadap persoalan-persoalan global.
Bagi UIN Walisongo, gagasan tersebut sejalan dengan komitmen perguruan tinggi Islam untuk mengembangkan keilmuan yang tidak hanya menghasilkan kecerdasan akademik, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan bagi manusia dan peradaban.
Masjid dengan demikian tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga dapat menjadi ruang perjumpaan, ruang pendidikan, ruang pemberdayaan, ruang dialog, dan ruang perdamaian.
IGIC 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran tersebut. Dari masjid, nilai-nilai agama dapat diterjemahkan menjadi gerakan kemanusiaan. Dari mimbar, pesan persaudaraan dapat melampaui batas negara. Dari jejaring para imam, agama diharapkan semakin kuat menghadirkan harmoni dan perdamaian bagi dunia.
IGIC 2026 Bentuk IAMI dan Hasilkan Jakarta Understanding
IGIC 2026 juga melahirkan dua capaian penting, yakni pembentukan The International Assembly of Mosque Imams (IAMI) dan kesepakatan bersama “Jakarta Understanding: On Mosque Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace.”
IAMI dibentuk sebagai platform internasional permanen yang mempertemukan para imam dan pemimpin agama dari berbagai negara untuk memperkuat kerja sama dalam bidang keharmonisan masjid, kepemimpinan imam, diplomasi keagamaan, perdamaian global, aksi kemanusiaan, serta pembangunan komunitas yang berkelanjutan.
Dalam forum yang berlangsung pada 25–27 September 2026 tersebut, Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, dipercaya sebagai Presiden pertama IAMI untuk masa jabatan tiga tahun. IAMI berkedudukan di Jakarta sebagai sekretariat permanen dan pusat administrasi, dengan jaringan kantor wilayah di sejumlah kawasan dunia.
Sementara itu, Jakarta Understanding menjadi kesepahaman para Imam Besar dari berbagai negara bahwa perdamaian merupakan tanggung jawab bersama umat manusia. Dokumen tersebut menegaskan peran strategis imam sebagai pemimpin ibadah, mediator konflik, pemersatu keberagaman, penuntun moral, sekaligus agen perdamaian dunia.
Jakarta Understanding juga menyerukan penguatan pendidikan karakter, moderasi dan toleransi, perlindungan kelompok rentan, diplomasi keagamaan dan dialog lintas iman, penolakan terhadap ekstremisme, kekerasan, hoaks dan ujaran kebencian, serta penguatan kesadaran ekoteologis dan kolaborasi global untuk kemanusiaan.
Kehadiran delegasi dari lebih dari 42 negara menjadikan IGIC 2026 sebagai ruang penting untuk memperkuat jejaring para imam lintas kawasan sekaligus menegaskan kembali posisi masjid sebagai kekuatan sosial dan moral dalam membangun perdamaian dunia.




