Dorong Mahasiswa Wonosobo Miliki Portofolio Nyata, FTIK UIN Walisongo Kolaborasi dengan Ditjen Pendis Kemenag dan Komisi VIII DPR RI – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Wonosobo — Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI menyelenggarakan Seminar Pengembangan Soft Skill dan Career Skill Bagi Mahasiswa. Kegiatan strategis ini bertempat di Hotel Artotel Wanasaba, Wonosobo, pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Dekan I FTIK UIN Walisongo Semarang, Dr. Ahmad Muthohar, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya bagi mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam untuk memiliki kesiapan ganda—tidak hanya unggul dalam keahlian bidang akademis, tetapi juga adaptif terhadap disrupsi teknologi di pasar kerja modern.

“Tantangan lulusan hari ini tidak lagi sekadar membuktikan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas kertas, tetapi bagaimana menunjukkan value serta diferensiasi diri di tengah perubahan dunia kerja yang sangat cepat. Melalui seminar hasil kolaborasi dengan Ditdiktis Ditjen Pendis Kemenag RI ini, kami ingin memastikan para mahasiswa memiliki soft skills, literasi digital, dan rekam jejak portofolio yang kuat sebelum melangkah ke dunia profesional,” ungkap Dr. Ahmad Muthohar.

WhatsApp Image 2026 10 23 at 13.21.341

Peta Ketenagakerjaan dan Kebutuhan Nilai Tambah

Hadir sebagai narasumber pertama, Anggota Komisi VIII DPR RI, H. Wibowo Prasetyo, memaparkan materi bertajuk “Pengembangan Soft Skills & Career Skills Mahasiswa”. Dalam paparannya, beliau menyoroti kondisi riil pasar kerja berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS per Agustus 2026 yang mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka berada di angka 4,65%) serta laporan World Economic Forum (WEF) 2025 yang memproyeksikan sekitar 39% keterampilan pekerja akan mengalami pergeseran atau usang pada rentang 2025–2030.

Wibowo Prasetyo menegaskan bahwa ijazah perguruan tinggi merupakan modal awal, namun diferensiasi lulusan ditentukan oleh soft skills dan bukti kerja yang terukur. Beliau juga menggarisbawahi bahwa kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak menyamakan nasib semua profesi; tugas yang berulang akan terotomatisasi, sedangkan peran analisis dasar diperkuat AI.

“Pekerjaan rutin makin mudah diotomatisasi oleh mesin. Namun, atribut manusiawi seperti empati, penilaian etis, kepemimpinan, dan tanggung jawab akan tetap menjadi keunggulan yang tidak tergantikan. Karena itu, rumus kesiapan karier mahasiswa saat ini adalah perpaduan kualifikasi akademik, keterampilan teknis, bukti portofolio, serta sikap profesional,” papar Wibowo.

Beliau pun mendorong mahasiswa untuk menyusun rencana aksi 90 hari dan mulai mendokumentasikan proyek nyata dalam format portofolio—baik berupa modul pembelajaran, kampanye sosial, maupun produk digital.

WhatsApp Image 2026 10 23 at 13.21.34

Empat Fondasi Lulusan Unggul di Era Digital

Narasumber kedua, Wakil Rektor I Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo, Prof. Dr. Sri Haryanto, M.Pd., membawakan materi “Penguatan Soft Skills Mahasiswa dalam Menghadapi Tantangan Dunia Kerja di Era Digital”. Beliau memaparkan bahwa era digital mengubah cara manusia belajar dan bekerja melalui dominasi AI & otomatisasi, kerja fleksibel, ekonomi platform, dan tuntutan belajar berkelanjutan (lifelong learning).

Prof. Sri Haryanto merinci empat fondasi utama yang harus dimiliki lulusan unggul: 1) Keahlian Bidang: Penguasaan disiplin ilmu dan praktik professional; 2) Literasi Digital Beretika: Kemampuan memanfaatkan teknologi dan AI secara kritis, melakukan verifikasi data, serta menjaga etika akademik; 3) Penguatan Soft Skills: Berpikir kritis-analitis, komunikasi efektif, kolaborasi lintas disiplin, kreativitas, kecerdasan emosional, dan kepemimpinan; 4) Integritas: Kejujuran, amanah, dan tanggung jawab terhadap setiap karya yang dihasilkan.

“Kompetensi tanpa karakter berisiko, sedangkan karakter tanpa kompetensi belum memadai. Soft skills tidak bisa tumbuh secara instan, melainkan dibangun melalui latihan konsisten dalam pembelajaran berbasis proyek, organisasi kemahasiswaan, magang, riset, serta refleksi diri. AI hendaknya dijadikan alat bantu untuk mempercepat ide, bukan pengganti nalar dan etika manusia,” tegas Prof. Sri Haryanto.

Di akhir sesi, para peserta dibekali panduan Rencana Aksi 30 Hari yang mencakup empat langkah progresif: mengenali diri di minggu pertama, melatih keterampilan di minggu kedua, membangun kolaborasi di minggu ketiga, serta membuktikan karya dalam bentuk draf portofolio sederhana di minggu keempat.

Acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan perumusan komitmen aksi individu oleh para mahasiswa peserta seminar.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *