Eksistensi Pendidikan Pascapandemi

Melansir dari majalah.tempo.co (02/05/20) Badan Pendidikan, Keilmuwan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) memperkirakan lebih dari 1,2 milyar atau 73,8 persen anak didik dari semua pelajar di 186 negara telah terkena dampak pandemi virus corona (covid-19). Sekolah dan Universitas ditutup, peserta didik terpaksa harus belajar dari rumah. Siap atau tidak siap, institusi pendidikan dipaksa untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh dengan mengandalkan internet, komputer, atau telepon pintar.

Dengan mentransfer proses pembelajaran dari sekolah menjadi rumah, membuat kelimpungan banyak pihak. Ketidaksiapan stakeholder sekolah melaksanakan pembelajaran daring menjadi faktor utama kekacauan ini, walaupun sebenarnya pemerintah memberikan alternatif solusi dalam memberikan penilaian terhadap siswa sebagai syarat kenaikan ataupun kelulusan dari lembaga pendidikan disaat situasi darurat seperti ini.

Teknologi dan digitalisasi menggantikan dan menjadi alat pembelajaran utama yang menghubungkan guru, siswa dan orang tua. Pandemi telah memaksa perubahan metode pendidikan. Ia mempercepat pelapukan metode belajar lama yang mengandalkan ruang kelas dan kehadiran guru di depan siswa. Pandemi mendorong pendidik, orang tua dan anak untuk berfikir lebih kritis dan berorientasi pada pemecahan masalah.

Sebelum pandemi, keperluan untuk mengadaptasikan pendidikan dengan teknologi dan digitalisasi sebenarnya sudah banyak disuarakan terutama dikait-kaitkan dengan gembar-gembor revolusi industri 4.0. Pandemi dipandang tak hanya telah mengkonfimasi kemestian-kemestian digitalisasi dari asumsi-asumsi revolusi industri 4.0 itu. Ia bahkan telah mempercepat upayanya untuk mempromosikan digitalisasi sebagai aset baru dalam pendidikan.

Pertanyaannya : apakah kebutuhan digitalisasi akibat pandemi ini akan menjadi tuntutan dan kebutuhan utama pendidikan dan terus bertahan setelah pandemi berlalu ? atau jangan-jangan  ia hanya membuka topeng dan masalah struktural lain yang mendekam dalam masyarakat dan dunia pendidikan kita? Adakah relasi-relasi baru yang muncul dari pandemi yang dapat kita pertahankan untuk merenovasi pendidikan kita di masa depan?

Pergeseran metode pembelajaran ini memaksa semua pihak untuk mengikuti jalur yang dapat diambil agar dapat belajar, dan pilihannya adalah dengan menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran online. Penggunaan teknologi ini sebenarnya bukan tanpa masalah. Banyak faktor yang menjadi penghambat efektifitas pembelajaran online, antara lain:

  1. Penguasaan teknologi yang masih rendah

Harus diakui bahwa tidak semua guru melek teknologi terutama guru generasi X (lahir tahun 1980 ke bawah ) yang pada masanya mereka belum menggunakan teknologi modern ini. Sama halnya dengan siswa, tidak semua siswa terbiasa menggunakan teknolgi dalam kehidupan sehari-harinya.

  1. Keterbatasan sarana dan prasarana

Kepemilikan sarana dan prasarana masih jauh dari kata ada. Karena di timbang dari harga dan cara mendapatkannya bagi masyarakat perkotaan mungkin bukan hal yang susah. Namun bagi masyarakat pedesaan hal ini masih dibilang wah.

  1. Jaringan internet

Pembelajaran daring tidak bisa lepas dari penggunaan internet. Tidak semua sekolah sudah terkoneksi dengan internet sehingga guru-gurunya pun dalam keseharian belum terbiasa dalam memanfaatkannya. Kalaupun ada yang menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan yang tidak stabil karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler.

  1. Biaya

Jaringan internet yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran daring menjadi masalah tersendiri bagi guru dan siswa. Kuota yang dibeli untuk kebutuhan internet melonjak dan banyak diantara guru dan juga orang tua siswa yang tidak siap untuk menambah anggaran dalam menyediakan jaringan internet.  

Kebutuhan akan digitalisasi berhadapan dengan kenyataan lebarnya ketaksetaraan ekonomi dan sosial di kalangan keluarga-keluarga siswa. Ketaksetaraan sosial-ekonomi ini berimplikasi pada perbedaan yang tajam dalam akses terhadap teknologi komunikasi dan informasi.

Bagi siswa dari keluarga kelas menengah ke atas, komputer, pulsa dan kuota internet jelas tidak menjadi masalah. Namun bagi sebagian besar siswa dari keluarga kelas bawah, terutama di daerah terpencil, teknologi jelas masih menjadi barang yang mahal dan sulit didapat.

Khususnya di bidang pendidikan, semua pemangku kepentingan pendidikan perlu mempelajari literasi teknis ini, terutama bila digunakan sebagai media pembelajaran online yang saat ini digunakan. Hal-hal yang perlu dipahami dan dicapai oleh pemangku kepentingan pendidikan antara lain:

  1. Orang tua

Pendidikan anak sejatinya adalah tanggung jawab mutlak orang tua, sebab diakhirat nanti pun orang tua akan di pinta pertanggungjawaban atas anak mereka masing-masing. Kegiatan KBM yang dilaksanakan secara daring memaksa orang tua untuk terlibat langsung dalam kegiatan belajar anak-anaknya, banyak pengalaman yang mereka rasakan ketika harus mendampingi.

Seperti halnya ada orang tua yang sering marah karena anaknya yang sulit diatur sehingga mereka tidak tahan dan menginginkan anak mereka belajar kembali di sekolah. Kejadian ini memberikan kesadaran kepada orang tua bahwa mendidik anak itu ternyata tidak mudah, diperlukan ilmu dan kesabaran yang sangat besar. Sehingga dengan kejadian ini orang tua harus menyadari dan mengetahui bagaimana cara membimbing anak-anak mereka dalam belajar, diharapkan setelah mendapatkan pengalaman ini para orang tua mau belajar bagaimana cara mendidik anak-anak mereka di rumah. Sebab, rumah merupakan tempat pertama dan utama dalam mendidik anak dan fungsi guru dan sekolah sebenarnya adalah hanya sebagai fasilitator.

  1. Guru

Pembelajaran daring harus menjadi suatu pembelajaran bagi guru bahwa peran mereka sebagai guru yang hanya mentransfer pengetahuan suatu saat akan tergantikan oleh guru yang lebih canggih yaitu mesin. Dengan menggunakan internet manusia bisa mengetahui sesuatu yang diinginkannya dengan cepat tanpa terbatas ruang dan waktu. Oleh karena itu guru harus belajar tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik namun juga mampu memberikan pembelajaran karakter berupa rasa dan bahasa yang sejatinya dalam internet tidak akan di dapati.

  1. Sekolah

Sebagai lembaga penyelenggara Pendidikan, sekolah harus bersiap-siap dengan perubahan peradaban manusia. Perubahan tingkah laku manusia yang cenderung tidak lepas dari teknologi dalam segala aktivitasnya harus juga diikuti oleh sekolah. Kegiatan daring ini bisa jadi menjadi proses awal perubahan paradigma tentang pelaksanaan KBM dari mulai pra sekolah hingga ke perguruan tinggi.

Oleh sebab itu, sekolah tak boleh acuh dengan perubahan ini jika perannnya tidak ingin tergantikan, sekolah harus mulai memikirkan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran daring, serta sosialisasi kepada siswa dan orang tua tentang perubahan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan. Situasi saat ini merupakan tantangan bagi dunia pendidikan, mengubah manajemen pengelolaan Pendidikan sangat diperlukan untuk mengimbangi perubahan yang sangat cepat.

  1. Pemerintah

Peran pemerintah sangat penting dalam menentukakan kebijakan  yang berkaitan dengan sistem pendidikan nasional. Semua lembaga pendidikan harus taat dan patuh terhadap aturan yang di tetapkannya, sebab pendidikan nasional memiliki tujuan yang sama dalam upaya membangun bangsa. Bergesernya perilaku manusia dari manual ke digital seperti yang terjadi saat ini dari segi positifnya adalah dapat mempermudah urusan manusia.

Pekerjaan bisa dilakukan tanpa memerlukan waktu yang lama, biaya yang bisa ditekan dan tempat yang tidak terbatas. Namun, selain itu juga terdapat dampak negatif yang terjadi, salah satunya adalah nilai sosial antar sesama manusia menjadi berkurang karena jarangnya interaksi secaara langsung. Sifat individualistis pasti akan sangat kental di zaman digital seperti saat ini, rasa empati dan simpati antar sesama akan melemah dan semua hal akan lebih banyak diukur dengan materi.

Namun, ada hal istimewa yang dilakukan pendemi, yaitu pandemi me-reintegrasikan pranata keluarga dan sekolah. Pandemi menutup pabrik dan menghentikan sebagian besar industri, membuat orang tua pulang ke rumah dan anak kembali ke dalam keluarga.

Dalam sejarah, industri menarik keluar orang-orang dewasa dari rumah dan mengubah struktur pekerjaan mereka dari yang semula berpusat pada tanah dan lahan menjadi ke pabrik-pabrik. Sekolah merupakan implikasi logis dari munculnya kebutuhan baru dunia industri dan keluarga, yang fungsinya adalah penyedia tenaga kerja. Ia diperlukan sebagai pranata perantara, menjadi ruang tunggu bagi anak selama orang tua bekerja sekaligus menjadi tempat ia dilatih dan dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja Ketika dewasa. Oleh pandemi, ruang hidup siswa tak lagi tersekat dalam partisi rumah-sekolah-dunia kerja-masyarakat.

 

Tulisan ini telah terbit sebelumnya di Eksistensi Pendidikan Pasca Pandemi (koranbogor.com)