UIN Walisongo Online, Kendal — Tim riset Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang melaksanakan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) dalam rangka pengembangan Model Rekonstruksi Cerita Rakyat Nusantara sebagai Media Mitigasi Intoleransi Siswa Madrasah Ibtidaiyah di Indonesia. Kegiatan yang berlangsung pada 5–7 Agustus 2026 ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian yang didukung oleh program MoRA AIR Funds Kementerian Agama Republik Indonesia–LPDP.
Penelitian yang diketuai oleh Prof. Dr. Syamsul Ma’rif, M.Ag. tersebut merupakan upaya mengembangkan media pembelajaran berbasis cerita rakyat Nusantara yang dapat digunakan untuk menanamkan nilai toleransi sekaligus memitigasi potensi intoleransi pada siswa madrasah ibtidaiyah. Dukungan MoRA AIR Funds Kementerian Agama–LPDP menjadi bagian penting dalam mendorong pelaksanaan riset yang berorientasi pada pengembangan inovasi pendidikan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pelaksanaan DKT dan Pelibatan Praktisi Pendidikan
DKT ini diikuti secara aktif oleh guru yang mengajar di kelas IV, V, dan VI, Kepala MI NU 04 Kumpulrejo, serta tim peneliti. Keterlibatan para guru dan kepala madrasah menjadi bagian penting karena mereka memiliki pengalaman langsung dalam proses pembelajaran dan memahami karakteristik siswa yang menjadi sasaran pengembangan media.
Kegiatan DKT dilaksanakan sebagai ruang akademik sekaligus ruang berbagi pengalaman untuk mempertemukan perspektif peneliti dan praktisi pendidikan. Melalui forum ini, peserta mendiskusikan, mengkaji, dan memberikan masukan terhadap model rekonstruksi cerita rakyat Nusantara yang dikembangkan agar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa madrasah ibtidaiyah.
Pemaparan dan Kajian Rancangan Media
Dalam kegiatan tersebut, tim peneliti memaparkan hasil kajian dan rancangan awal Model Rekonstruksi Cerita Rakyat Nusantara. Diskusi kemudian diarahkan pada berbagai aspek, antara lain:
* Pemilihan cerita rakyat, konstruksi tokoh, alur cerita, konflik, penggunaan bahasa, dan pesan moral.
* Integrasi nilai-nilai toleransi dan keberagaman.
Para guru kelas IV, V, dan VI memberikan perspektif berdasarkan pengalaman mereka dalam mendampingi siswa. Masukan yang diberikan mencakup tingkat keterbacaan cerita, kesesuaian bahasa dengan usia siswa, daya tarik cerita, kemampuan siswa dalam memahami pesan, serta bentuk penyajian yang dinilai paling sesuai untuk digunakan dalam pembelajaran.
Sementara itu, Kepala MI NU 04 Kumpulrejo, Bahrul Ulum, M.Pd., turut memberikan masukan dari perspektif kelembagaan dan kebutuhan madrasah. Keterlibatan kepala madrasah dan guru diharapkan dapat memastikan bahwa model yang dikembangkan tidak hanya sesuai secara akademik, tetapi juga realistis untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di madrasah.
Diskusi juga diarahkan untuk mengidentifikasi bagian-bagian cerita yang perlu dipertahankan, dikembangkan, maupun direkonstruksi agar tetap mempertahankan kekayaan budaya sekaligus menyampaikan pesan toleransi secara relevan.
Penguatan Nilai Karakter dan Keberagaman
Prof. Dr. Syamsul Ma’rif, M.Ag., selaku ketua tim penelitian, menekankan pentingnya pelibatan praktisi pendidikan dalam proses pengembangan model. Rekonstruksi cerita rakyat tidak hanya diarahkan pada perubahan isi cerita, tetapi juga pada bagaimana cerita dapat menjadi media pembelajaran yang mampu membangun pemahaman siswa mengenai keberagaman, empati, dan kehidupan yang harmonis.
Melalui DKT, tim peneliti bersama guru, kepala madrasah, dan peserta lainnya membahas sejumlah nilai yang perlu diperkuat dalam cerita, seperti:
* Saling menghargai
* Empati
* Kerja sama
* Penerimaan terhadap perbedaan
* Persaudaraan dan hidup berdampingan secara harmonis
Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat hadir secara natural melalui tokoh, alur, konflik, dan penyelesaian cerita. Selain substansi cerita, diskusi juga memperhatikan aspek keterbacaan, penggunaan bahasa, panjang cerita, karakter tokoh, ilustrasi, serta penyampaian pesan agar produk mudah dipahami, menarik, dan sesuai dengan perkembangan peserta didik.
Tindak Lanjut dan Harapan Penelitian
Hasil DKT selanjutnya menjadi bahan bagi tim peneliti untuk melakukan revisi dan penyempurnaan model serta produk cerita rakyat. Model dan produk yang telah disempurnakan kemudian dipersiapkan untuk tahap validasi dan uji coba terbatas di lingkungan madrasah.
Tahapan tersebut dilanjutkan melalui uji coba terbatas di MI NU 04 Kumpulrejo, Kabupaten Kendal, yang melibatkan siswa kelas IV, V, dan VI melalui kegiatan pre-test, membaca dan memahami cerita, aktivitas pembelajaran berbasis cerita, serta pengerjaan post-test sebagai bagian dari proses evaluasi.
Melalui dukungan MoRA AIR Funds Kementerian Agama–LPDP, penelitian ini diharapkan tidak hanya menghasilkan luaran akademik, tetapi juga melahirkan produk pembelajaran yang dapat dimanfaatkan secara nyata oleh madrasah. Pemanfaatan cerita rakyat sebagai media mitigasi intoleransi diharapkan menjadi inovasi pembelajaran yang dekat dengan dunia anak, sehingga mampu membangun generasi yang menghargai keberagaman, memiliki empati, serta menolak berbagai bentuk intoleransi dalam kehidupan bermasyarakat.




