UIN Walisongo Online, Semarang — Hari ketiga sekaligus penutupan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 UIN Walisongo Semarang berlangsung penuh gemuruh dan gelora semangat. Puncak acara ditandai dengan orasi ilmiah memukau yang disampaikan oleh akademisi sekaligus peneliti, Dr. Media Wahyudi Askar, Ph.D., di hadapan ribuan mahasiswa baru yang memadati lokasi acara pada Rabu (20/8/2026).
Dalam orasinya, Dr Media berhasil menyulut keberanian dan daya kritis mahasiswa baru melalui refleksi perjalanan hidup, tantangan kebangsaan, serta panggilan moral sebagai agen perubahan.
Dari Anak Kampung hingga Pulang untuk Ibu
Mengawali orasinya, Dr Media membagikan kisah perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan. Berasal dari desa, ia terus berdoa dan berikhtiar hingga berhasil mendapatkan beasiswa penuh untuk studi Magister (S-2) dan Doktoral (S-3) di luar negeri. Menariknya, usai menuntaskan studi S-3 dan mendapatkan tawaran karier di luar negeri, Dr Media memilih kembali ke Tanah Air karena satu panggilan telepon dari sang ibu.
“Ibu saya telepon dan bilang kangen. Saya tidak melawan, saya langsung pulang ke kampung halaman. Tak lama kemudian, saya dipercaya menjadi dosen di UGM dan mendirikan CELIOS. Di mana pun berada, jadilah orang yang memberikan dampak terbaik bagi lingkungan sekitar,” kenangnya.

Jangan Jadi Mahasiswa Pemburu CV
Dr Media memberikan pesan menohok bagi seluruh mahasiswa baru UIN Walisongo Semarang agar tidak terjebak dalam rutinitas akademis yang pragmatis. Ia mengingatkan agar masa perkuliahan tidak hanya diisi dengan kegiatan formalitas demi mempercantik Curriculum Vitae (CV).
“Jangan pernah berpikir datang ke kampus hanya untuk kuliah, lalu berakhir sebagai mahasiswa yang sekadar membuat CV! Tujuan kita belajar adalah agar berdaya guna dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitar kita,” tegas Dr. Media disambut gemuruh tepuk tangan peserta.
Ia meminta para mahasiswa untuk membawa realitas sosial di luar benteng kampus ke dalam imajinasi perkuliahan mereka. Nasib para pengemudi ojek online, pedagang kecil, hingga jutaan anak muda yang kesulitan mencari kerja harus menjadi bahan pemikiran di ruang-ruang kelas.
“Jika kalian di jurusan teknik atau arsitektur, pikirkan bagaimana ilmu itu bisa menolong rakyat. Jika di ekonomi, pikirkan ekonomi yang menyejahterakan masyarakat. Jika di hukum, pikirkan bagaimana menuntaskan persoalan ketidakadilan hukum di masyarakat,” tambahnya.
Tantangan Menjadi Agen Perubahan dan Penegak Keadilan
Di akhir orasinya, Dr. Media menyoroti berbagai persoalan bangsa, mulai dari ketidakadilan politik dan hukum, pemborosan anggaran negara, korupsi, hingga kerusakan lingkungan yang kerap dibiarkan begitu saja tanpa ada yang berani menyuarakan. Ia menegaskan bahwa mahasiswa adalah anak muda yang memiliki keberanian, nyali, dan kemampuan untuk mengorganisasi diri demi membela masyarakat kecil.
Ia pun memberikan tantangan terbuka kepada seluruh mahasiswa baru UIN Walisongo Semarang:
“Sanggup tidak UIN Walisongo menjadi agen perubahan untuk negeri ini? Sanggup tidak UIN Walisongo menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain di seluruh Indonesia?” serunya yang langsung dijawab kompak, “Sanggup!” oleh ribuan mahasiswa baru.
Menutup orasi ilmiah yang membakar semangat tersebut, Dr. Media mengajak mahasiswa untuk berani berorganisasi, membangun jejaring, serta tidak menjadi pribadi yang individualistis. Orasi diakhiri dengan seruan takbir dan yel-yel perjuangan mahasiswa: “Allahu Akbar! Hidup Mahasiswa! Hidup Mahasiswa yang melawan!” yang menggelegar menandai secara resmi semangat baru mahasiswa UIN Walisongo Semarang 2026.




