Tim UIN Walisongo Kembangkan Teknologi EIT untuk Ungkap Respons Tubuh Saat Berpuasa – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online; Semarang – Tim Riset MORA The Awakened Indonesia Research Funds (The AIR Funds) UIN Walisongo Semarang mengembangkan teknologi pencitraan portabel untuk mengamati perubahan fisiologis tubuh selama menjalani puasa.

Penelitian tersebut memadukan teknologi Electrical Impedance Tomography (EIT), ilmu fisiologi, psikologi, serta kajian spiritual Islam untuk mengetahui bagaimana tubuh beradaptasi terhadap perubahan pola makan, tidur, dan aktivitas selama berpuasa.

Ketua tim penelitian, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., mengatakan riset ini bertujuan menjembatani perkembangan sains modern dengan tradisi spiritual Islam melalui pendekatan ilmiah.

“Ini bukan sekadar riset teknologi. Ini adalah upaya menjembatani sains modern dengan tradisi spiritual Islam, untuk menunjukkan bahwa keduanya bisa saling melengkapi demi kualitas hidup yang lebih baik,” ujar Musahadi.

Penelitian ini merupakan bagian dari program MORA The AIR Funds yang dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan Kementerian Agama, dengan Sampoerna University sebagai mitra teknologi.

Mengukur perubahan tubuh secara non-invasif

Salah satu teknologi utama dalam penelitian ini adalah EIT, yakni metode pencitraan yang bekerja dengan memberikan stimulasi listrik berintensitas sangat rendah melalui elektroda pada permukaan tubuh. Respons impedansi listrik dari jaringan kemudian diolah untuk menghasilkan informasi mengenai perubahan kondisi fisiologis.

Teknologi tersebut dinilai memiliki keunggulan karena bersifat non-invasif dan tidak menggunakan radiasi pengion. Dalam penelitian ini, EIT diharapkan mampu merekam perubahan fisiologis secara dinamis, terutama yang berkaitan dengan aktivitas gastrointestinal dan kondisi tubuh selama berpuasa.

Anggota tim peneliti yang menangani kesiapan teknis perangkat EIT, Heni Sumarti, M.Si., menyebut validasi alat menjadi faktor penting sebelum teknologi digunakan dalam penelitian lapangan.

“Validasi alat di laboratorium adalah fondasi. Akurasinya menentukan kualitas seluruh data yang nanti kita kumpulkan,” kata Heni.

Menurut dia, kualitas data dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti pergerakan peserta, posisi tubuh, kualitas kontak elektroda, hingga gangguan sinyal. Karena itu, perangkat perlu diuji agar mampu menghasilkan data yang stabil dan konsisten.

Melibatkan 40 mahasiswa

Penelitian ini akan melibatkan 40 mahasiswa laki-laki tingkat pertama yang tinggal di Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo Semarang.

Sebanyak 20 mahasiswa akan menjalani puasa Ramadan, sedangkan 20 mahasiswa lainnya menjalani pola intermittent fasting 16:8. Pengukuran dilakukan dalam beberapa tahap untuk melihat perubahan kondisi peserta dari waktu ke waktu.

Pemilihan mahasiswa Ma’had dilakukan karena lingkungan tersebut memiliki pola kehidupan yang relatif terstruktur. Para peserta tetap menjalani aktivitas akademik, ibadah, kehidupan asrama, serta proses adaptasi sebagai mahasiswa.

Selain EIT, penelitian juga menggunakan teknologi electroencephalography (EEG) dan ultrasonografi (USG). Data dari berbagai instrumen tersebut akan dikombinasikan dengan pengamatan kondisi psikologis peserta untuk melihat hubungan antara perubahan tubuh dan kondisi mental selama puasa.

Mengkaji respons tubuh saat mendengarkan Al-Qur’an

Dalam penelitian ini, peserta juga akan diamati ketika mendengarkan murotal Surah Al-Fatihah. Pengamatan tersebut dilakukan untuk melihat perubahan respons fisiologis dan aktivitas otak melalui EEG serta instrumen pendukung lainnya.

Tim menegaskan bahwa penelitian tersebut tidak bertujuan mengukur nilai spiritual seseorang melalui perangkat elektronik, melainkan mengkaji respons fisiologis yang menyertai pengalaman mendengarkan bacaan Al-Qur’an secara empiris.

Dikembangkan sejak 2020

Teknologi wearable EIT yang digunakan dalam penelitian ini telah dikembangkan oleh tim Sampoerna University sejak 2020. Pengembangan tersebut mencakup sistem wearable EIT, algoritma pencitraan dinamis real-time, gEIT Suit berbahan elastis, hingga Pocket EIT yang lebih ringkas dan hemat energi.

Penasihat teknis pengembangan perangkat dari Sampoerna University, Panji Nursetia Darma, Ph.D., mengatakan penelitian ini menjadi tahap lanjutan untuk membawa teknologi EIT dari laboratorium menuju kondisi penggunaan nyata.

“Kami ingin melihat bagaimana puasa memengaruhi otak dan lambung secara bersamaan, termasuk bagaimana respons tubuh berubah ketika seseorang mendengarkan Al-Qur’an,” ujar Panji.

Melalui penelitian ini, tim berharap teknologi EIT dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi sistem pemantauan kesehatan portabel yang dapat digunakan untuk berbagai kajian terkait pola makan, aktivitas, stres, tidur, dan kondisi psikofisiologis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *