Kurang lengkap rasanya ketika berkunjung ke Semarang belum menikmati wisata yang ada di Semarang. Banyak ragam wisata yang ada di Semarang, dari yang unik dan menarik, alam, sejarah, kesenian dan lain sebagainya, semua bersatu satu ada di Ibu Kota Jawa Tengah satu ini. Dan tak boleh tertinggal wisata kuliner Kampung Jawi yang sedang ramai di gandrungi. Kampung Jawi juga mendapatkan penghargaan juara pertama kategori desa wisata kuliner, di ajang Trisakti Tourism Award 2021.
Semarang, Kalialang Lama RT 2 RW 1, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati. Sebelum membahas mengenai Kepeng yang ada di Kampung Jawi sedikit menyenggol mengenai awal mula terbentuknya Kampung Jawi ini, Kampung Jawi ini inisiatif daari Siswanto selaku Penggerak Budaya yang ingin melestarikan tradisi yang ada di indonesia, terutama tradisi budaya di Jawa.
Lokasi yang ditempuh dari pusat Kota Semarang memang terbilang lumayan jauh. Namun tidak membuat pengunjung enggan mencoba mampir di tempat ini. Karena,walaupun jauh tempuh perjalanan menuju Kampung Jawi akan terbayarkan dengan suasana kampung jawi yang nyaman bisa jadi pilihan melepas penat sibuknya perkotaan. Di kampung Jawi juga diiringi alunan musik khas jawa sambil menikmati kuliner yang bernuansa tradisional khas jawa. Lampu sentir dan obor menjadi penerang, pelengkap suasana pedesaan yang memang ditonjolkan di tempat makan ini.
Kampung Jawi memiliki keunikan tersendiri yaitu terletak pada alat transaksinya yang diberi nama “Kepeng”. Nama Kepeng diambil dari penyebutan mata uang zaman dahulu. Bentuk Kepeng yang ada di sini berupa balok pipih yang berbahan dasar kayu, dengan nilai tukar 1 Kepeng senilai Rp 3.000. Penamaan Kepeng sendiri juga diterapkan pada menara yang ada di Kampung Jawi, yaitu Menara Kepeng yang terbuat dari bambu.
Saat masuk ke Kampung Jawi, pengunjung langsung disuguhi suasana tempat makan dengan bangunan dari bambu dan kayu. Meja kursi untuk pengunjung sengaja dibuat sederhana khas desa zaman dulu. Ada lagi keunikan di Kampung Jawi yaitu semua pedagang di haruskan memakai pakaian tradisional. Semua peralatan penjualan juga diwajibkan memakai gerabah buatan sendiri.
Siswanto mengatakan bahwa semua memakai gerabah tradisional. Dan mengusung tema tradisional karena sebagai pemerhati budaya, serta merasa perlu mengawal generasi saat ini untuk mengenal budaya.
Untuk pengunjung yang ingin membeli makanan yang tersedia di Kampung Jawi maka harus menukarkan uang rupiah dengan Kepeng. Adapun harga makanan dan minumannya bervariasi mulai dari satu kepeng hingga kurang lebih empat kepeng.
Siswanto pun menjelaskan bahwa Transaksi jual beli di sini menggunakan Kepeng. Kepeng sendiri merupakan alat tukar tempo dulu, yang saat itu difungsikan untuk memudahkan manajemen kontrol rupiah. Satu Kepeng di sini kami tukar dengan uang senilai Rp 3.000, dan pengunjung bisa menukar berapapun, dan nanti bisa dibelanjakan di angkringan Kampung Jawi.
Makanan yang ada di Kampung Jawi mayoritas tradisional seperti Pecel, Tiwul, Gethuk, Lunpia, Jamu Jun, Jahe Rempah, Es Gempol, Wedang Roti, dan masih banyak lagi. Para pengunjung tak usah risau dengan harga kuliner jadi mahal dengan mata uang Kepeng, karena harga paling mahal di sana hanya 4 Kepeng.
Siswanto mengatakan bahwa harga kulinernya paling mahal 3-4 Kepeng, Seperti Nasi Pecel 3 kepeng, Soto 3 Kepeng, Mie Kopyok 3 Kepeng, Jagung Bakar 3 Kepeng, Jahe Rempah 3 Kepeng, Geprek 3 Kepeng, Es Degan 2 Kepeng, Es Teh 1 Kepeng, Telo Rebus 1 Kepeng, dan masih banyak lagi menu lainnya. Dengan menukar 5 Kepeng dan sudah mendapatkan Nasi Pecel, Teh Hangat, dan ada es Gempol.
Untuk para pengunjung yang kepengnya masih tersisa maka bisa di tukar kembali dengan uang di tempat penukaran kepeng. Selain menikmati kuliner tradisional, di Kampung Jawi juga ada banyak permainan edukasi seperti paket belajar bahasa jawa, paket dolanan (Egrang, Congklak, Bakiak, lompat tali, Gerobak Sodor, Ular-ularan). Kesenian tradisional juga turut menghibur para pengunjung.




