Kembangkan Nalar Kritis Lewat Praktikum Keterampilan Berlogika – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang — Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (FUHUM) UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan praktikum intensif yang berfokus pada pengembangan nalar kritis. Acara bertajuk “Pengembangan Keterampilan Berlogika” ini menempatkan materi logika dalam konteks tradisi intelektual filsafat Islam sebagai pembahasan utama.

Praktikum yang ditujukan bagi mahasiswa AFI angkatan 2023 ini berlangsung selama tiga hari, mulai Rabu hingga Jumat (20–22 Mei 2026), di Ruang Sidang Lantai 2 FUHUM. Menghadirkan narasumber ahli, Ahmad Zayadi, Lc, MA., kegiatan intensif ini diikuti oleh 69 mahasiswa prodi AFI yang siap mempertajam pisau analisis mereka.

Sesi praktikum ini membedah materi Ilmu Mantiq (logika Islam) secara komprehensif. Pembahasan mencakup teori pembentukan konsep atau gambaran mental (tashawwur), validasi kebenaran dari sebuah pernyataan atau hukum (tashdiq), penyusunan konklusi lewat metode silogisme (qiyas), hingga teknik penalaran demonstratif (burhan) untuk menghasilkan kesimpulan yang sahih dan meyakinkan (yaqini).

Lebih dari sekadar teori, praktikum ini menekankan pada penerapan keterampilan berlogika. Mahasiswa dilatih untuk menganalisis proposisi, menguji kevalidan argumen, dan mengidentifikasi sesat pikir (fallacy). Materi ini sangat krusial sebagai fondasi bagi mahasiswa filsafat dalam mengkaji teks-teks keagamaan, teologi (Kalam), maupun dalam merespons berbagai isu kontemporer dengan metodologi yang benar.

Bedah Nalar Publik dan Isu Kontemporer

Menariknya, ketajaman analisis logika ini tidak hanya berhenti di atas kertas, melainkan langsung diuji untuk merespons dinamika sosial-politik riil. Alfarizy, salah satu mahasiswa peserta praktikum, menceritakan bagaimana kelasnya menggunakan pisau analisis Ilmu Mantiq untuk membedah pernyataan tokoh publik.

“Pembahasan logika saat praktikum sangat kontekstual. Kami tidak hanya mengkaji teks klasik, tetapi juga membedah jika pernyataan Presiden Prabowo tentang masyarakat di desa tidak pakai dolar itu keliru,” ungkap Alfarizy.

Menurutnya, melalui pendekatan logika dan kausalitas yang dipelajari di kelas, mahasiswa diajak melihat bahwa meskipun masyarakat desa tidak bertransaksi langsung menggunakan mata uang asing, mereka tetap terdampak oleh fluktuasi nilai tukar dolar melalui jalur distribusi barang, harga pupuk, hingga inflasi.

“Dari sini kami belajar mengidentifikasi logical fallacy dalam narasi kebijakan publik,” tambahnya.

WhatsApp Image 2026 05 20 at 14.57.161

Sinergi Kurikulum dan Kemitraan Strategis

Merespons antusiasme mahasiswa, Ketua Jurusan AFI, Tsuwaibah, menyatakan bahwa Keterampilan Berlogika adalah salah satu capaian utama dari kurikulum jurusan.

“Keterampilan berlogika atau Ilmu Mantiq adalah alat yang tak terpisahkan dari kajian filsafat Islam. Praktikum ini sengaja dirancang agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori di ruang kelas, tetapi memiliki nalar yang tajam, valid, dan berintegritas dalam membedah realitas sosial,” tegas Tsuwaibah.

Acara ini terselenggara berkat kerja sama strategis antara UIN Walisongo dan Islamic Cultural Center (ICC), Jakarta. Kolaborasi ini memberikan nilai tambah dengan memperkaya perspektif tentang kajian filsafat dan pemikiran Islam kontemporer, serta memperkuat jejaring intelektual antarlembaga.

Praktikum “Pengembangan Keterampilan Berlogika” ini diharapkan dapat mencetak generasi mahasiswa AFI yang saleh, cerdas, analitis, dan mampu memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif bagi masyarakat dan peradaban.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *