Belajar Pemulasaraan Jenazah bagi Calon Penggerak Sosial – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang — UIN Walisongo Semarang melalui Ma’had Al-Jami’ah Walisongo menyelenggarakan Pelatihan Pemulasaraan Jenazah bagi seluruh santriwati pada Rabu (17/06/2026) yang bertempat di Aula 2 Gedung Baru Lantai 2 Ma’had Al-Jami’ah. Kegiatan ini dirancang untuk membekali santriwati dengan pengetahuan dasar, keterampilan praktik, dan kesadaran sosial dalam menjalankan salah satu kewajiban penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Pelatihan ini diikuti santriwati Ma’had Al-Jami’ah Walisongo secara bergiliran sejak pagi hingga siang hari. Pola ini membuat suasana belajar lebih kondusif, sekaligus memberi ruang bagi peserta untuk menyimak materi dan praktik pemulasaraan jenazah dengan lebih fokus.

Kegiatan dibuka oleh Pengasuh Ma’had Al-Jami’ah Walisongo, Dr. Ahmad Maghfurin, M.Ag. Dalam pengarahannya, ia menekankan bahwa pemulasaraan jenazah adalah keterampilan teknis, sekaligus bagian dari literasi keagamaan dan kepedulian kemanusiaan. Santriwati diarahkan untuk memahami adab, ketelitian, serta tanggung jawab sosial ketika kelak berada di tengah keluarga dan masyarakat.

Belajar dari Praktisi, Memahami dengan Hati

Suasana pelatihan tidak berhenti pada penjelasan teori. Para peserta diajak memahami tahapan pemulasaraan jenazah secara runtut, mulai dari kesiapan mental, perlengkapan, tata cara memandikan, mengafani, hingga prinsip menjaga kehormatan jenazah. Materi disampaikan dengan cara yang mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan santriwati. Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya mengetahui urutan pemulasaraan jenazah, tetapi juga menangkap nilai penghormatan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial di dalamnya.

Dua pemateri yang dihadirkan memiliki latar pengalaman langsung dalam pendampingan masyarakat. Turiyati, praktisi pemulasaraan jenazah dan guru TPA, membagikan pengetahuan berbasis pengalaman lapangan. Sementara itu, Sri Jumiati, guru MI Islamiah dan praktisi pemulasaraan jenazah, memperkaya materi dengan penekanan pada ketenangan, kebersihan, serta kehati-hatian dalam praktik.

Melalui pendekatan praktik, peserta dapat melihat bahwa pemulasaraan jenazah membutuhkan kesiapan yang utuh: pengetahuan fikih, keberanian, kerja sama, dan empati. Pesan utama yang mengemuka ialah bahwa keterampilan ini tidak hanya penting bagi petugas khusus, tetapi juga relevan bagi perempuan muda yang kelak berperan dalam keluarga, lingkungan pesantren, dan komunitas sosial.

Manfaat Sosial yang Dibawa Pulang

Pelatihan ini menjawab kebutuhan nyata di masyarakat. Dalam banyak situasi, keluarga sering membutuhkan orang yang memahami tata cara pemulasaraan jenazah secara benar, tenang, dan sesuai tuntunan agama. Karena itu, santriwati tidak hanya menjadi penerima ilmu, tetapi juga calon penggerak layanan sosial-keagamaan di lingkungannya.

Dampak kegiatan ini terlihat dari arah pembelajarannya yang praktis dan edukatif. Santriwati dibekali kemampuan untuk mengetahui apa yang harus dilakukan, siapa yang berperan, perlengkapan apa yang diperlukan, serta bagaimana menjalankan proses dengan tertib dan penuh penghormatan. Dengan bekal tersebut, pelatihan ini memperkuat karakter kepedulian, kesiapsiagaan, dan tanggung jawab sosial di lingkungan Ma’had Al-Jami’ah Walisongo.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *