Fiki Roi’atuz Zibrija Jadi Wisudawan Terbaik UIN Walisongo – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang – Di tengah riuh prosesi wisuda periode Mei 2026, satu nama mencuri perhatian dalam pelaksanaan wisuda Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang yang digelar Sabtu (23/5/2026) di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub. Ia adalah Fiki Roi’atuz Zibrija, lulusan Program Magister Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik berkat perjalanan akademik yang tak biasa: seorang pengajar aktif, lulusan luar negeri, sekaligus “deadliner tangguh” yang menjadikan tekanan waktu sebagai energi produktif.

Perempuan yang akrab disapa Fiki ini mengaku penghargaan tersebut bukan sesuatu yang sepenuhnya ia targetkan sejak awal. Alih-alih mengejar gelar terbaik, ia memilih menikmati proses belajar dengan konsisten di tengah kesibukan mengajar dan tuntutan akademik.

“Saya sangat senang dan bersyukur. Dulu memang pernah terlintas harapan menjadi salah satu wisudawan terbaik, tetapi saya tidak menjadikannya target utama. Saya lebih fokus menjalani proses dengan sebaik mungkin,” ujarnya.

Pengumuman itu bahkan terasa di luar ekspektasi bagi Fiki. Di balik senyumnya saat wisuda, ada jejak perjalanan panjang yang telah ditempuh sejak menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, tempat ia menempuh studi S1 Bahasa Arab dan Sastra. Saat itu, Fiki pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu mahasiswi asing terbaik dan memperoleh apresiasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo. Namun, baginya, pencapaian bukan soal trofi atau angka semata.

“Penghargaan ini menjadi simbol dari proses panjang yang penuh usaha, kedisiplinan, dan konsistensi. Ini bukan titik akhir, tetapi pengingat untuk terus berkembang dan memberi manfaat,” katanya.

Deadliner yang Produktif di Tengah Kesibukan Mengajar

Salah satu sisi menarik Fiki justru terletak pada pengakuannya tentang gaya belajar. Jika banyak wisudawan terbaik identik dengan tipe belajar terjadwal dan disiplin ketat, Fiki justru mengaku lebih dekat dengan karakter “deadliner”.

Namun jangan salah. Baginya, deadline bukan alasan untuk bekerja asal-asalan, melainkan momentum untuk mencapai fokus maksimal.

“Saya memang cenderung deadliner, tetapi tetap mencicil pekerjaan. Menariknya, produktivitas terbesar justru muncul ketika mendekati tenggat waktu. Pengalaman menjadi mahasiswa sekaligus pengajar membuat saya belajar mengatur prioritas,” ungkapnya.

Selama studi magister, Fiki harus membagi waktu antara aktivitas akademik, persiapan mengajar, penelitian, hingga penulisan tesis. Tantangan itu bahkan sempat membawanya ke fase hampir menyerah, terutama saat menyusun tesis yang menjadi penelitian akademik besar pertamanya.

Meneliti Bahasa Arab yang Hidup di Dunia Nyata

Keunggulan Fiki tak berhenti pada capaian akademik. Tesis yang ia tulis menghadirkan topik unik dan relevan dengan dunia pendidikan bahasa Arab masa kini. Berjudul “Diglosia Bahasa Arab pada Pembelajaran Bahasa Arab: Studi Kasus di Pondok Modern Darussalam Gontor”, penelitian Fiki mengupas keberadaan dua ragam bahasa Arab yang hidup berdampingan: bahasa formal (fusha) dan bahasa percakapan sehari-hari (‘amiyah).

Ketertarikan pada tema ini ternyata telah tumbuh sejak ia belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor dan semakin matang ketika menjalani studi di Mesir. Ia melihat langsung bagaimana bahasa Arab formal dan nonformal digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Temuan penelitiannya menarik: diglosia ternyata tidak selalu menjadi hambatan pembelajaran.

“Bahasa Arab nonformal justru bisa menjadi jembatan linguistik bila digunakan secara proporsional. Pembelajaran bahasa Arab perlu adaptif terhadap realitas kebahasaan global, tanpa meninggalkan kedalaman bahasa fusha,” jelasnya.

Penelitian itu sekaligus mencerminkan visi Unity of Sciences yang menjadi ciri khas UIN Walisongo. Dalam tesisnya, Fiki tidak hanya melihat bahasa sebagai sistem linguistik, tetapi juga sebagai bagian dari budaya pesantren, pendidikan, dan nilai-nilai keislaman yang membentuk karakter peserta didik.

Orang Tua, Syair Arab, dan Semangat Bertahan

Ketika diumumkan sebagai wisudawan terbaik, orang tua menjadi pihak pertama yang menerima kabar bahagia tersebut. Reaksi keluarga, kata Fiki, penuh rasa syukur dan bangga karena mereka menyaksikan langsung perjuangan panjang yang dijalaninya.

“Pencapaian ini tidak lepas dari doa dan dukungan keluarga. Mereka melihat sendiri bagaimana saya membagi waktu antara mengajar, kuliah, hingga menyelesaikan tesis,” tuturnya.

Di balik konsistensinya belajar, Fiki juga memiliki sumber motivasi yang unik: syair Arab klasik. Salah satu yang membekas baginya adalah qasidah karya Abu Al-Atahiyah berjudul Al-Khair wa al-Syar Aadatun wa Ahwaa’un, yang bahkan ia tuliskan dalam pengantar tesisnya. Syair itu mengajarkan bahwa setiap orang memiliki jalan perjuangan masing-masing tanpa perlu sibuk membandingkan diri dengan orang lain.

Dari Kampus Kemanusiaan Menuju Cita-cita Menjadi Dosen

Meski tidak terlalu aktif berorganisasi saat menempuh studi magister karena fokus membagi waktu dengan pekerjaan mengajar, Fiki tetap aktif bertukar gagasan bersama rekan-rekan angkatan yang ia sebut sebagai lingkungan belajar suportif.

Kini, selepas menyandang gelar magister dan predikat wisudawan terbaik, Fiki menatap langkah besar berikutnya: menjadi dosen.

“Saya ingin terus berkembang di dunia pendidikan dan akademik, khususnya bahasa Arab, linguistik, dan pendidikan. Menjadi dosen bagi saya bukan sekadar profesi, tetapi cara untuk terus belajar sekaligus memberi manfaat,” ujarnya.

Bagi mahasiswa lain di UIN Walisongo, Fiki berpesan agar tidak terlalu takut pada proses atau merasa tertinggal oleh pencapaian orang lain.

“Tidak harus sempurna sejak awal. Yang paling penting adalah menjaga konsistensi, niat belajar, dan terus melangkah sedikit demi sedikit,” pesannya.

Kisah Fiki Roi’atuz Zibrija menunjukkan bahwa menjadi wisudawan terbaik bukan hanya tentang siapa yang paling cepat atau paling sempurna, tetapi tentang siapa yang mampu bertahan, menjaga konsistensi, dan menjadikan setiap tantangan sebagai bagian dari perjalanan menuju versi terbaik dirinya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *