UIN Walisongo Online, Semarang – Keberhasilan sejati sering kali lahir dari rahim keterbatasan yang diperjuangkan dengan ketekunan tanpa batas. Kisah inspiratif inilah yang melekat pada Septira Nafa’atul Udzma, mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang. Gadis asal Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang tersebut resmi dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Prodi PGMI pada prosesi wisuda periode Mei 2026.
Bagi mahasiswi yang akrab disapa Udzma di kampus dan Nafa di rumah ini, predikat wisudawan terbaik bukanlah sebuah kebetulan, melainkan target yang telah ia pancang sejak semester awal. Memegang teguh prinsip Man Jadda Wajada (siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil), Udzma berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan padatnya aktivitas bukanlah penghalang untuk mengukir prestasi tertinggi.
“Perasaan saya tentu sangat bahagia, terharu, sekaligus tidak menyangka. Bagi saya, gelar ini bukan sekadar tentang angka atau IPK semata, tetapi tentang perjalanan panjang, pengorbanan, doa, dan perjuangan. Gelar ini menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi,” tutur Udzma penuh syukur.
Di balik toga yang dikenakannya, tersimpan perjuangan luar biasa. Udzma harus membagi waktu secara ketat antara perkuliahan, menimba ilmu agama sebagai santri penghafal Al-Qur’an di PPPTQ Al Hikmah Tugurejo, mengemban amanah sebagai pengurus divisi pendidikan pondok, hingga bekerja paruh waktu sebagai tentor bimbingan belajar dan les privat demi meringankan beban orang tua.
Orang pertama yang ia kabari mengenai prestasi ini adalah sang ibu, seorang penjahit rumahan di Batang yang selama ini berperan ganda sebagai sosok ayah sekaligus tulang punggung keluarga. Meski hidup dalam kesederhanaan, sang ibu tak pernah lelah mengetuk pintu langit dan meyakinkan Udzma bahwa niat belajar yang baik akan selalu dibukakan jalan oleh Allah SWT. Selama berkuliah, perjuangan finansialnya juga sedikit terbantu berkat adanya dukungan beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Batang.
“Ibu adalah segalanya bagi saya. Beliau selalu menjadi orang yang paling yakin bahwa saya bisa menyelesaikan kuliah hingga lulus. Jadi bagi saya, gelar ini adalah bentuk amanah sekaligus hadiah untuk ibu, keluarga, guru, dosen, dan semua orang yang selalu mendukung saya,” ungkapnya haru.
Selain sang ibu, ia juga menjadikan almarhum bapaknya, bapak sambung, serta pengasuh pondok Ibu Nyai Rofiqotul Makkiyah sebagai pilar motivator terbesar.
Perjuangan itu kian menantang saat ia menyusun tugas akhir. Mengangkat judul skripsi Pengembangan Media Pop Up Book Berbasis Game Edukasi Materi Gaya di Sekitar Kita Kelas IV di MI Islamiyah Satriyan, Udzma sempat terkendala biaya pembuatan media yang cukup mahal.
Namun, lewat bimbingan intensif dari wali dosen sekaligus pembimbing skripsinya, Ibu Zuanita Andriyani, Udzma sukses menyelesaikan penelitian tersebut dan lulus tepat waktu di semester 7. Penelitiannya berhasil membuktikan bahwa media pop up book yang interaktif mampu mendongkrak antusiasme belajar siswa madrasah ibtidaiyah.
Sebagai seorang mahasiswi sekaligus penghafal Al-Qur’an, Udzma juga berhasil mengimplementasikan konsep Kesatuan Ilmu Unity of Sciences khas UIN Walisongo dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyeimbangkan ilmu akademik keduniawian dengan nilai-nilai keislaman demi prinsip kemanfaatan yang nyata. Ia selalu memegang erat nasihat dari sang dosen pembimbing, yakni Khoirunnas anfauhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain).
Kini, setelah resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.), Udzma berencana untuk terus melanjutkan setoran mengaji di pondok dan menyelami dunia kerja, sembari menyimpan asa besar untuk melanjutkan studi ke jenjang Magister (S2) jika mendapat kesempatan. Kepada adik-adik tingkatnya di UIN Walisongo Semarang, ia menitipkan sebuah pesan yang mendalam.
“Jangan pernah takut untuk bermimpi besar. Jangan menyerah hanya karena keadaan ekonomi, kesibukan, atau rasa lelah. Kuncinya adalah konsisten, disiplin, pandai memanajemen waktu, dan selalu melibatkan doa dalam setiap langkah. Percayalah bahwa usaha yang sungguh-sungguh tidak akan mengkhianati hasil,” pungkasnya optimis.




