Dari Kampus Pengajaran Menuju Kampus Inovasi dan Peradaban – UIN Walisongo

Oleh: Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag., Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Di tengah derasnya arus Revolusi Industri 4.0, masyarakat 5.0, kecerdasan artifisial (H), dan tuntutan pembangunan berkelanjutan, perguruan tinggi tidak lagi cukup menjalankan fungsi tradisional sebagai institusi pendidikan. Universitas dituntut menjadi pusat inovasi, penghasil solusi, sekaligus penggerak perubahan sosial dan ekonomi. Dalam konteks inilah penyelenggaraan Forum Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) PTKIN se-Indonesia di Hotel Novotel Semarang pada 16–19 Juli 2026 memiliki arti yang sangat strategis.

Forum yang mempertemukan para Dekan, Wakil Dekan, dan Ketua Program Studi FST dari seluruh PTKIN tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi akademik, tetapi merupakan ruang intelektual untuk merumuskan masa depan Fakultas Sains dan Teknologi di lingkungan PTKIN. Kehadiran Dirjen Pendidikan Islam Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag., Andi Rahadian, S.H., LL.M. dari Kementerian PANRB yang juga pernah menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Kesultanan Oman, Prof. Dr. Muhammad Nur, DEA., Guru Besar Universitas Diponegoro sekaligus pendiri PT DIPO Teknologi, serta Prof. Dr. H. Imam Suprayogo sebagai salah satu penggagas Fakultas Sains dan Teknologi di UIN menunjukkan bahwa forum ini berada pada persimpangan penting antara kebijakan, inovasi, dan pengembangan keilmuan.

Transformasi yang Belum Selesai

Transformasi IAIN menjadi UIN pada awal abad ke-21 merupakan salah satu kebijakan paling visioner dalam sejarah pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Kehadiran Fakultas Sains dan Teknologi menjadi simbol bahwa Islam tidak mengenal dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern. Paradigma integrasi ilmu yang diperjuangkan para pendiri UIN telah membuka ruang dialog yang produktif antara wahyu, akal, dan realitas empiris.

Namun setelah lebih dari dua dekade, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah transformasi tersebut telah melahirkan transformasi budaya akademik?

Jawabannya belum sepenuhnya. Sebagian besar FST PTKIN masih berorientasi pada pembelajaran (teaching university). Kinerja kelembagaan masih sering diukur berdasarkan jumlah mahasiswa, akreditasi, atau publikasi ilmiah. Padahal, universitas kelas dunia bergerak lebih jauh. Mereka diukur dari kemampuan menghasilkan inovasi, paten, perusahaan rintisan (start-up), kemitraan industri, kontribusi terhadap kebijakan publik, hingga dampak sosial yang dirasakan masyarakat.

Dengan kata lain, transformasi struktural belum sepenuhnya diikuti oleh transformasi paradigma.Kini saatnya FST PTKIN bergerak menuju innovation-driven university, yakni kampus yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghasilkan pengetahuan baru yang mampu menyelesaikan persoalan bangsa.

Good University Governance sebagai Fondasi

Transformasi tidak mungkin berhasil tanpa tata kelola yang baik (Good University Governance). Tata kelola bukan sekadar persoalan administrasi atau kepatuhan terhadap regulasi, melainkan menyangkut budaya organisasi yang menjunjung tinggi transparansi, akuntabilitas, profesionalisme, partisipasi, efektivitas, efisiensi, serta integritas.

Dalam perspektif manajemen modern, tata kelola yang baik merupakan prasyarat lahirnya organisasi pembelajar (learning organization). Peter Senge menyebut organisasi yang mampu belajar sebagai organisasi yang terus memperbarui kapasitasnya dalam menciptakan masa depan. Demikian pula perguruan tinggi. Kampus yang mampu belajar akan lebih adaptif terhadap perubahan, lebih cepat berinovasi, dan lebih siap menghadapi ketidakpastian global.

Bagi PTKIN, Good University Governance juga berarti membangun budaya akademik yang bebas dari birokrasi yang kaku, memperkuat kepemimpinan kolaboratif, memperluas pengambilan keputusan berbasis data, dan menumbuhkan ekosistem yang mendorong kreativitas sivitas akademika.

Selama ini, banyak hasil penelitian berhenti pada laporan akhir, artikel jurnal, atau prosiding seminar. Nilai akademiknya tinggi, tetapi dampaknya terhadap masyarakat sering kali masih terbatas.

Paradigma tersebut harus berubah

Presiden Republik Indonesia beberapa tahun terakhir terus menekankan pentingnya hilirisasi sebagai strategi pembangunan nasional. Semangat itu juga harus menjadi agenda utama perguruan tinggi.

Bagi Fakultas Sains dan Teknologi, hilirisasi berarti menjadikan penelitian sebagai sumber inovasi yang dapat diproduksi, dipatenkan, dikomersialisasikan, dimanfaatkan masyarakat, serta mendukung kemandirian ekonomi bangsa.

Konsep Triple Helix yang dikembangkan Henry Etzkowitz menjelaskan bahwa inovasi hanya akan berkembang apabila perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia industri bekerja dalam kemitraan yang erat. Bahkan kini berkembang menjadi Quadruple Helix, yaitu dengan melibatkan masyarakat sebagai pengguna inovasi.

Karena itu, keberhasilan FST PTKIN tidak lagi cukup diukur dari jumlah publikasi Scopus, tetapi juga dari jumlah paten, produk inovasi, perusahaan rintisan berbasis teknologi, kerja sama industri, serta kontribusinya terhadap penyelesaian persoalan masyarakat.

Integrasi Sains dan Islam sebagai Keunggulan Kompetitif, di sinilah FST PTKIN memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak perguruan tinggi lainnya. Integrasi sains dan Islam bukan sekadar menyandingkan ayat Al-Qur’an dengan teori ilmiah. Integrasi adalah paradigma epistemologis yang menempatkan wahyu, akal, dan pengalaman empiris sebagai sumber ilmu yang saling menguatkan.

Prof. Imam Suprayogo pernah menggambarkan integrasi ilmu sebagai pohon yang kokoh. Akar yang kuat adalah nilai-nilai keislaman; batangnya merupakan metodologi ilmiah; sedangkan cabang, daun, bunga, dan buahnya adalah berbagai disiplin ilmu yang memberi manfaat bagi kehidupan.

Paradigma tersebut menjadi sangat relevan ketika dunia menghadapi krisis etika akibat perkembangan teknologi yang begitu cepat. Kecerdasan artifisial, rekayasa genetika, robotika, dan teknologi digital memerlukan landasan moral agar kemajuan sains tetap berpihak pada kemanusiaan.

Karena itu, integrasi sains dan Islam harus menjadi identitas akademik FST PTKIN dalam melahirkan teknologi yang tidak hanya canggih, tetapi juga berkeadilan, berkelanjutan, dan membawa kemaslahatan.

Menuju Entrepreneurial University

Transformasi berikutnya adalah membangun budaya entrepreneurial university. Burton R. Clark menjelaskan bahwa universitas masa depan adalah universitas yang memiliki jiwa kewirausahaan, mampu mengelola sumber daya secara kreatif, membangun jejaring luas, dan menghasilkan inovasi yang memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Dalam konteks PTKIN, konsep ini tidak identik dengan komersialisasi pendidikan. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus menghadirkan manfaat nyata. Laboratorium tidak boleh berhenti sebagai ruang praktikum, tetapi berkembang menjadi pusat inovasi, inkubator bisnis, pusat pengembangan teknologi halal, energi terbarukan, kecerdasan artifisial, rekayasa lingkungan, teknologi kesehatan, hingga industri kreatif berbasis nilai-nilai Islam.

Saatnya Menyusun Roadmap Bersama

Forum Dekan FST PTKIN di Semarang hendaknya menghasilkan lebih dari sekadar rekomendasi administratif. Forum ini perlu melahirkan Roadmap Transformasi FST PTKIN 2026–2045 yang memuat target bersama dalam bidang tata kelola, kualitas sumber daya manusia, internasionalisasi, penguatan laboratorium, hilirisasi riset, inovasi teknologi, integrasi ilmu, dan kolaborasi dengan industri.

Roadmap tersebut penting agar seluruh FST PTKIN bergerak dalam visi yang sama, saling menguatkan, dan bersama-sama berkontribusi terhadap pencapaian Indonesia Emas 2045.

Pada akhirnya, keberhasilan FST PTKIN tidak hanya ditentukan oleh megahnya gedung, banyaknya mahasiswa, atau tingginya akreditasi. Ukuran sesungguhnya adalah sejauh mana fakultas mampu melahirkan inovasi yang menyelesaikan persoalan bangsa, membangun tata kelola yang unggul, memperkuat daya saing nasional, serta menghadirkan sains yang berpijak pada nilai-nilai Islam. Transformasi itu memang tidak mudah, tetapi sejarah selalu mencatat bahwa perubahan besar lahir dari keberanian untuk membangun visi bersama. Forum Dekan FST PTKIN tahun 2026 kiranya menjadi tonggak penting untuk meneguhkan tekad tersebut: membawa Fakultas Sains dan Teknologi dari kampus pengajaran menuju kampus inovasi dan peradaban.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *