Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen Buka-Bukaan Rencana Pembangunan Tanggul Laut Jateng di Depan 4.623 Mahasiswa Baru UIN Walisongo – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (yang akrab disapa Gus Yasin), memberikan kuliah umum dalam rangkaian acara PBAK 2026 bagi 4.623 mahasiswa baru UIN Walisongo Semarang yang memadati lapangan utama (18/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Gus Yasin hadir mewakili Gubernur Jawa Tengah untuk menyampaikan pesan-pesan kebangsaan, kepemimpinan, serta kesiapan pemerintah dalam menangani berbagai isu strategis daerah, khususnya krisis lingkungan pesisir Semarang.

Mengawali orasinya, Gus Yasin menyampaikan salam hangat dari Gubernur Jawa Tengah serta mengingatkan mahasiswa baru akan pentingnya memegang teguh sumpah mahasiswa yang baru saja diikrarkan, terutama dalam hal menjaga integritas dan kecintaan terhadap tanah air.

“Syukur alhamdulillah pada pagi hari ini kita bisa bertemu dalam keadaan sehat walafiat. Salam dari Pak Gubernur, beliau meminta kami untuk mewakilinya,” tutur Gus Yasin di hadapan ribuan mahasiswa baru.

Ia menegaskan bahwa semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air merupakan bagian integral dari ajaran keagamaan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, sumpah untuk mencintai dan membangun negeri harus diwujudkan dalam aksi nyata agar Indonesia menjadi bangsa yang disegani dunia.

“Adik-adik sudah bersumpah, salah satunya adalah mencintai tanah air. Dan tanah air ini bagian dari apa yang diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad SAW. Sumpah tersebut, mencintai tanah air, membangun tanah air, membuat tanah air kita menjadi tanah air yang dihormati oleh bangsa-bangsa dan penduduk dunia. Orang yang bermanfaat adalah orang yang memberikan contoh kepada masyarakat kita,” tegas Gus Yasin.

Diwarnai Aksi Pembentangan Banner ‘Semarang Menolak Tenggelam’

Kuliah umum berlangsung dinamis ketika salah seorang mahasiswa FISIP Prodi Ilmu Politik, Jolang, membentangkan spanduk bertuliskan isu lingkungan: “Semarang Menolak Tenggelam”.

Jolang menyampaikan aspirasi serta hasil kajian lapangan terkait fenomena penurunan tanah (land subsidence) dan ancaman banjir rob yang makin mengancam kawasan pesisir Semarang, khususnya di wilayah Mangkang Wetan dan Mangunharjo. Menurutnya, masalah tersebut dipicu oleh ekstrasi tanah skala besar dan pesatnya industrialisasi di pesisir.

“Salah satu isu yang kami angkat adalah Semarang Menolak Tenggelam. Adalah satu fakta di mana setiap tahunnya Semarang mengalami penurunan tanah. Penurunan tanah diakibatkan karena ekstraksi industri di wilayah pesisir. Kami mahasiswa FISIP memiliki metodologi sosial yang kuat,” ujar Jolang.

Ia menambahkan bahwa dampak di lapangan sangat memprihatinkan, di mana garis pantai telah tererosi dan bergeser hingga 2 kilometer, menyebabkan pemukiman warga terendam air laut.

“Fakta yang kami temukan, garis pantai itu adalah 2 kilometer. Beberapa pemukiman itu jadi laut gara-gara dihimpit oleh kawasan industri,” tambahnya.

WhatsApp Image 2026 08 18 at 14.02.18

Respons Pemprov Jateng dan Rencana Mega Proyek Tanggul Laut 2027

Menanggapi kajian dan aspirasi mahasiswa tersebut, Wagub Taj Yasin Maimoen mengapresiasi kepekaan kritis generasi muda. Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak tinggal diam dan telah melakukan langkah-langkah konkret dalam memetakan serta menangani penurunan tanah dan rob dari wilayah barat hingga timur Semarang (seperti Kaligawe, Genuk, hingga Demak/Sayung).

Gus Yasin menjelaskan bahwa penanganan krisis pesisir ini membutuhkan sinergi skala nasional karena keterbatasan anggaran daerah. Oleh karena itu, Pemprov Jateng terus mengawal Peraturan Presiden (Perpres) mengenai pembangunan tanggul laut (sea wall) yang membentang dari Banten hingga Jawa Timur (Gresik).

“Tanggul laut ini tidak bisa menangani keseluruhan secara langsung, ada tahapannya. Tahapannya adalah yang penting di situ diselamatkan dulu. Di tahun depan insyaallah kita akan tambahi lagi ke timur. Pada tahun ini, kita di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sudah menganggarkan, tetapi itu tidak mungkin, anggarannya kecil kalau dari pemerintah daerah. Maka kami senang dengan adanya Perpres mencanangkan adanya tanggul laut mulai dari Banten sampai ke Jawa Timur yang akhirnya ada di Kabupaten Gresik,” papar Gus Yasin.

Gus Yasin juga mengungkapkan bahwa tim ahli yang melibatkan akademisi Universitas Diponegoro (Undip) serta mantan pejabat ESDM telah turun langsung melakukan survei dan merumuskan titik-titik krusial penanganan.

Adu Gagasan: Solusi Akademis dan Tanggung Jawab Pemerintah

Dalam dialog interaktif tersebut, Gus Yasin mengajak para mahasiswa untuk tidak berhenti pada tataran kajian masalah semata, melainkan turut menyumbangkan gagasan dan solusi konkret.

“Jangan hanya kajian yang melihat robnya saja, tapi saya minta adik-adik juga punya solusi,” pintanya.

Mengakhiri kuliah umumnya, Taj Yasin Maimoen mengajak seluruh mahasiswa baru untuk senantiasa kritis, mengawal kebijakan pembangunan, serta berkolaborasi bersama pemerintah demi memastikan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah di masa depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *