UIN Walisongo Online, Semarang – Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo Semarang menempatkan persoalan etika, integritas keilmuan, dan kemampuan berpikir kritis sebagai bagian penting pembentukan mahasantri baru di tengah percepatan kecerdasan buatan dan perubahan sosial digital. Isu tersebut mengemuka dalam Orientasi Santri Ma’had Al-Jami’ah Walisongo Gelombang I Tahun Akademik 2026–2027, yang berlangsung pada Kamis-Jumat (27–28/08/2026) di Aula Prof. Tgk. Ismail Yaqub, Kampus 3 UIN Walisongo Semarang.
Orientasi tidak hanya diarahkan untuk mengenalkan kehidupan Ma’had kepada mahasantri baru, tetapi juga membawa mereka pada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana seorang santri mempertahankan adab, integritas, dan kedalaman moral ketika teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kesiapan etik manusia? Persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika generative AI, deepfake, bias algoritma, komersialisasi penelitian, hingga academic ghostwriting mulai memengaruhi lingkungan pendidikan dan produksi pengetahuan. Materi orientasi secara eksplisit menempatkan persoalan-persoalan itu sebagai bagian dari problem etika global yang harus dipahami generasi santri hari ini.
Materi bertema “Santri dan Disrupsi: Antara Etika Keilmuan dan Semangat Membangun Peradaban” yang disampaikan Dr. Mahmud Yunus Mustofa, M.Pd., misalnya, memotret adanya jarak antara perkembangan teknologi yang bersifat eksponensial dan perkembangan kedewasaan etika manusia yang cenderung lebih lambat. Ketimpangan tersebut dapat memunculkan persoalan berupa manipulasi informasi melalui deepfake, eksploitasi data, polarisasi di media digital, menurunnya empati, hingga krisis ruang publik yang sehat.
Kepala/Pengasuh Ma’had Al-Jami’ah Walisongo, Dr. Ahmad Maghfurin, M.Ag., menempatkan orientasi sebagai bagian awal pembentukan kehidupan mahasantri di lingkungan Ma’had.
“Orientasi Ma’had Al-Jami’ah bukan hanya menjadi ruang pengenalan terhadap aturan dan budaya kehidupan pesantren, tetapi merupakan proses awal dalam membentuk karakter mahasantri yang memiliki keseimbangan antara kedalaman spiritual, keunggulan akademik, dan tanggung jawab sosial. Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, khususnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, santri harus memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai adab, integritas, dan akhlak mulia,” ujar Ahmad Maghfurin.

Persoalan yang dihadapi generasi santri juga tidak sederhana. Materi orientasi mengidentifikasi setidaknya tiga tantangan: kecenderungan moralitas hanya berlaku kuat di lingkungan kelompok sendiri (in-group morality), terbatasnya kemampuan melakukan penalaran etis, dan menyempitnya pemaknaan adab menjadi kesopanan lahiriah semata.
Dengan demikian, tantangan Ma’had bukan sekadar menghasilkan mahasiswa yang patuh terhadap aturan internal, tetapi membentuk pribadi yang mampu membawa nilai etik ketika berada di kelas, organisasi, media sosial, lingkungan profesional, dan ruang publik.
Perwakilan Tim Pengembang, Dr. Hasyim Asy’ari, M.Ag., M.Pd.I., juga menjadi salah satu perspektif penting dalam menghubungkan orientasi dengan pengembangan sistem pembinaan mahasantri.
“Pengembangan Ma’had Al-Jami’ah harus mampu menjawab kebutuhan mahasiswa pada era perubahan yang sangat cepat. Tradisi kepesantrenan tidak boleh dipahami hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi harus menjadi kekuatan nilai yang membimbing mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan kontemporer. Karena itu, Ma’had berupaya mengintegrasikan kedalaman keilmuan Islam, pembentukan karakter, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Hasyim Asy’ari.
Forum dipandu oleh Anis Shalatin Simon, M.Pd. sebagai moderator, yang mengarahkan pembahasan agar persoalan kepesantrenan tidak berhenti pada aspek normatif, tetapi terhubung dengan realitas kehidupan mahasiswa dan tantangan zaman.
Kerangka yang dibangun dalam materi memberikan arah yang cukup jelas. Santri ideal bukan mereka yang mempertentangkan tradisi dengan pemikiran kritis, melainkan mereka yang mampu “mensintesis antara adab dan critical reasoning”, menjadikan akhlak sebagai karakter, sekaligus memperkuat dimensi etika ruhaniah.
Dengan cara itu, Ma’had dapat menjadi ruang pendidikan yang mempertemukan tradisi intelektual Islam, kedalaman spiritual, dan literasi teknologi.

Pelajaran penting dari orientasi ini adalah bahwa pendidikan santri pada era digital membutuhkan perubahan pendekatan. Kepatuhan tetap penting, tetapi tidak cukup. Santri juga harus memahami mengapa sebuah tindakan dianggap benar, bagaimana menilai konsekuensinya, siapa yang terdampak, serta bagaimana mempertanggungjawabkannya secara akademik dan moral.
Pendekatan tersebut relevan ketika teknologi memungkinkan mahasiswa menghasilkan teks, gambar, data, bahkan argumentasi dalam hitungan detik. Di tengah kemudahan tersebut, kemampuan yang justru semakin bernilai adalah membedakan informasi benar dan manipulatif, memastikan sumber pengetahuan dapat dipertanggungjawabkan, mempertahankan orisinalitas karya, dan menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan.
Orientasi juga menunjukkan bahwa adab tidak seharusnya dimaknai sebagai sikap pasif atau ketidakberanian mempertanyakan sesuatu. Sebaliknya, adab dan penalaran kritis perlu tumbuh beriringan. Mahasantri ditantang untuk tetap rendah hati tanpa kehilangan daya kritis, disiplin tanpa menjadi mekanis, dan terbuka terhadap perkembangan teknologi tanpa kehilangan kemampuan menentukan batas etik.
Pesan tersebut diringkas secara kuat dalam bagian akhir materi orientasi: di tengah akselerasi teknologi, santri diharapkan hadir membawa “kompas moral”, dengan menyeimbangkan rasionalitas, kepedulian terhadap manusia, dan penyucian batin untuk membangun peradaban yang beradab.




