UIN Walisongo Online, Semarang – Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang memperingati Hari Santri dengan menggelar Seminar Internasional bertajuk Preaching Moderate Islam in Southeast Asia and the Middle East for Global Peace” pada Kamis (22/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Theater Teatrikal Lantai 4 Gedung KH Shaleh Darat UIN Walisongo Semarang ini diikuti oleh 250 mahasiswa FDK. Seminar menghadirkan dua narasumber internasional, yakni Prof. Dr. Sholeh Mahmoud Al Bajuri, Profesor Faculty of Da’wah Islamiyah, Al-Azhar University, Kairo, Mesir, dan Prof. Dr. S. Salahudin bin Suryono, Dekan Academy of Contemporary Islamic Studies, Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia. Kegiatan dibuka oleh Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., didampingi Dekan FDK, Dr. Nasihun Amin, M.Ag.
Seminar ini menjadi ruang akademik untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai dakwah Islam moderat sekaligus membahas peran pendidikan, dialog lintas budaya, dan kolaborasi internasional dalam membangun perdamaian global.
Dekan FDK UIN Walisongo, Dr. Nasihun Amin, M.Ag., menyampaikan bahwa tema seminar tersebut relevan dengan kondisi dunia yang masih diwarnai konflik, polarisasi, dan berbagai persoalan kemanusiaan. Menurutnya, dakwah Islam perlu berkontribusi dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai, rukun, dan saling bekerja sama.
“Kita berharap pertemuan ini tidak berhenti pada wacana dan diskusi akademik, tetapi juga melahirkan tindakan nyata di lingkungan masing-masing. Islam moderat bukan Islam yang garang. Islam itu merangkul, bukan memukul; Islam itu memeluk, bukan menendang,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong perdamaian global melalui penguatan moderasi beragama, kerukunan, dan kerja sama lintas masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan mengikuti seminar dengan saksama serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan aktivitas dakwah.
Sementara itu, Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., menegaskan bahwa peringatan Hari Santri bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk merefleksikan perjuangan santri dalam menjaga bangsa serta mengembangkan nilai-nilai Islam yang “rahmatan lil ‘alamin”.
Menurutnya, tradisi keilmuan para ulama dan perjuangan para santri merupakan bagian penting dari fondasi bangsa. Nilai akhlakul karimah, komitmen terhadap moderasi beragama, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal perlu terus diperkuat untuk menghadapi ekstremisme dan membangun perdamaian dunia.
Rektor juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk memperluas pemahaman tentang Islam moderat. Kehadiran akademisi dari Mesir dan Malaysia diharapkan memperkaya perspektif mahasiswa mengenai praktik dakwah yang kontekstual, terbuka, dan menghargai keberagaman. Hal ini sejalan dengan komitmen UIN Walisongo dalam mengembangkan integrasi keilmuan melalui nilai “Wahdatul Ulum” yang memadukan nilai-nilai Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Sholeh Mahmoud Al Bajuri menyoroti pentingnya pemahaman agama secara mendalam untuk mencegah penyalahgunaan dalil keagamaan sebagai pembenaran tindakan ekstremisme. Ia menilai bahwa sejumlah konflik di Timur Tengah menggunakan agama sebagai legitimasi kekerasan, padahal tindakan ekstrem yang mengatasnamakan pembelaan terhadap Tuhan tidak mencerminkan nilai-nilai luhur ajaran Islam.
Menurut Prof. Sholeh, ayat-ayat Al-Qur’an harus dipahami secara komprehensif dengan memperhatikan “asbabun nuzul” atau latar belakang turunnya ayat, penafsiran para ulama, serta konteks penerapannya. Pemahaman tekstual tanpa mempertimbangkan aspek-aspek tersebut berpotensi melahirkan penafsiran yang keliru terhadap ajaran Islam.
Ia menegaskan bahwa pendidikan Islam perlu membentuk umat yang memiliki pemahaman keagamaan yang mendalam, menjunjung tinggi toleransi, serta mengedepankan kasih sayang dan penghormatan terhadap pemeluk agama lain. Menurutnya, penguatan moderasi beragama menjadi bagian penting dari pembelajaran Islam di lingkungan perguruan tinggi dan masjid-masjid di Mesir.
Prof. Sholeh juga mengaitkan moderasi Islam dengan konsep “ummatan wasatan” dalam Surah Al-Baqarah ayat 143. Prinsip tersebut menekankan pentingnya keseimbangan dan keadilan dalam kehidupan beragama. Baginya, moderasi bukan sekadar wacana, melainkan nilai yang harus tercermin dalam cara memahami agama, membangun hubungan sosial, dan menyampaikan dakwah kepada masyarakat.
Sementara itu, Prof. Dr. S. Salahudin bin Suryono menekankan bahwa dakwah merupakan nasihat yang disampaikan dengan cara dan bahasa yang baik. Dakwah tidak hanya berorientasi pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga menjadi upaya membentuk akhlak dan membangun keharmonisan di tengah masyarakat yang beragam.
Menurutnya, toleransi merupakan bentuk penghormatan terhadap martabat manusia. Kesalahpahaman terhadap Islam dan umat Islam perlu dijawab melalui pendidikan, keteladanan, dan pemahaman agama yang benar. Karena itu, pendidikan Islam harus mengintegrasikan pemahaman fikih dengan pembentukan adab dan akhlak, sebagaimana dikembangkan melalui pendidikan Islam di Malaysia maupun di Indonesia.
Prof. Salahudin juga menyoroti pentingnya penguatan pemikiran “wasathiyah”, yaitu cara pandang Islam yang moderat, seimbang, dan tidak berlebihan. Selain melalui pendidikan, dakwah perlu diwujudkan dalam kegiatan sosial dan kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga masyarakat, serta berbagai organisasi. Dialog lintas etnik dan budaya dinilai penting untuk membangun saling pengertian dan memperkuat hubungan antarbangsa.

Dalam konteks perkembangan teknologi, ia mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan media sosial secara bertanggung jawab sebagai sarana dakwah. Platform digital memiliki potensi besar untuk memperluas jangkauan pesan keagamaan, tetapi penggunaannya harus didasarkan pada pemahaman agama yang baik dan komitmen menjaga perdamaian.
“Media sosial harus menjadi alat untuk memberikan kemudahan dan manfaat bagi masyarakat, bukan justru merusak perdamaian dan hubungan antarmanusia,” pesannya.
Ia menambahkan bahwa tantangan dakwah saat ini juga berkaitan dengan upaya menghadapi Islamofobia dan kesalahpahaman terhadap Islam. Upaya tersebut perlu dilakukan melalui pendidikan, dialog, diplomasi keilmuan, serta keteladanan umat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Prof. Salahudin turut mendorong penguatan kerja sama antara Indonesia dan Malaysia, termasuk kolaborasi perguruan tinggi, ulama, dan organisasi masyarakat untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan dan mendukung perdamaian, termasuk bagi masyarakat Palestina.
Melalui seminar internasional dalam momentum Hari Santri ini, FDK UIN Walisongo berharap mahasiswa mampu memperluas wawasan mengenai dakwah Islam moderat di tingkat regional maupun global. Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen FDK dalam menyiapkan generasi pendakwah yang berwawasan internasional, menjunjung tinggi akhlak dan menerapkan toleran.




