FISIP UIN Walisongo Perkuat Kompetensi Bahasa Inggris Mahasiswa, Siapkan Akses Akademik Global

UIN Walisongo Online, Semarang – Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang memperkuat kompetensi bahasa Inggris mahasiswa melalui program Pelatihan Bahasa Inggris. Kegiatan pembekalan yang berlangsung secara daring melalui Zoom pada Sabtu (24/10/2026) tersebut diikuti 32 mahasiswa angkatan 2024 dari Program Studi Ilmu Politik dan Program Studi Sosiologi.

Kegiatan ini dihadiri pimpinan FISIP UIN Walisongo Semarang dan Kepala Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) UIN Walisongo Semarang, Dr. Daviq Rizal, M.Pd. Program tersebut menjadi bagian dari upaya fakultas mempersiapkan mahasiswa menghadapi kebutuhan akademik dan profesional yang semakin menuntut penguasaan bahasa asing.

Wakil Dekan I FISIP UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Tholkhatul Khoir, M.Ag., menegaskan bahwa kemampuan bahasa Inggris merupakan kompetensi penting untuk memperluas akses mahasiswa terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus meningkatkan daya saing di tingkat global.

“Penguasaan bahasa Inggris merupakan kebutuhan penting bagi mahasiswa di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan persaingan global. Pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen FISIP dalam membangun ekosistem akademik yang relevan dan berorientasi global, mulai dari pelatihan bahasa Inggris, kelas internasional, KKL, magang dan KKN internasional, hingga membuka akses bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam konferensi internasional,” ujar Tholkhatul Khoir.

Ia menambahkan, penguasaan bahasa Inggris diharapkan dapat membantu mahasiswa mengakses literatur internasional, mengikuti perkembangan keilmuan, serta meningkatkan kapasitas diri dalam menghadapi tantangan setelah menyelesaikan studi.

Menurutnya, pelatihan bahasa perlu dipandang sebagai proses pengembangan kompetensi yang berkelanjutan, bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademik. Karena itu, mahasiswa diharapkan mengikuti program dengan disiplin, aktif dalam pembelajaran, dan memiliki motivasi untuk terus meningkatkan keterampilan berbahasa.

Sementara itu, Kepala PPB UIN Walisongo Semarang, Dr. Daviq Rizal, M.Pd., menjelaskan bahwa pelatihan bahasa Inggris membutuhkan konsistensi dan keterlibatan aktif peserta. Program ini dirancang melalui 13 pertemuan tatap muka yang diawali dengan pre-test secara daring untuk memetakan kemampuan awal mahasiswa.

“Belajar bahasa Inggris membutuhkan proses, konsistensi, dan keterlibatan aktif. Karena itu, mahasiswa perlu mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh. Program ini dilaksanakan secara luring sebanyak 13 pertemuan, diawali dengan pre-test secara daring untuk memetakan kemampuan awal peserta dan mendukung proses pembelajaran yang lebih terarah,” kata Daviq Rizal.

WhatsApp Image 2026 10 24 at 11.33.02

Ia menjelaskan, keterampilan bahasa Inggris dapat memperluas akses mahasiswa terhadap sumber pengetahuan, membantu pemahaman referensi akademik internasional, serta mendukung kesiapan menghadapi peluang studi dan pekerjaan yang membutuhkan kompetensi bahasa asing.

Daviq juga mendorong mahasiswa membangun kebiasaan belajar secara berkelanjutan. Keberhasilan pelatihan, menurutnya, tidak hanya ditentukan oleh program yang disediakan, tetapi juga oleh kesungguhan peserta dalam berlatih dan mengembangkan kemampuan secara mandiri.

Penguatan kompetensi bahasa Inggris tersebut sejalan dengan upaya FISIP UIN Walisongo Semarang meningkatkan kualitas mahasiswa melalui pengembangan kemampuan pendukung akademik. Keterlibatan mahasiswa Ilmu Politik dan Sosiologi menunjukkan bahwa kecakapan bahasa asing menjadi kebutuhan lintas disiplin dalam lingkungan ilmu sosial.

Melalui program ini, FISIP berharap mahasiswa mampu memanfaatkan pelatihan secara optimal untuk mendukung perkuliahan, penelitian, dan kesiapan memasuki dunia kerja. Lebih jauh, penguasaan bahasa Inggris diharapkan menjadi modal bagi mahasiswa untuk memperluas partisipasi dalam pertukaran pengetahuan dan kegiatan akademik internasional.

Pengembangan kompetensi bahasa dengan demikian tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan, tetapi menjadi bagian dari pembangunan ekosistem akademik yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan global. Upaya tersebut diharapkan memperkuat kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dinamika pendidikan tinggi dan dunia profesional yang semakin terhubung secara internasional.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *