Permainan tradisional anak merupakan salah satu sarana permainan sekaligus edukasi anak yang cukup penting. Sebut saja kitiran, manukan, dan othok-othok yang menjadi ikon atau lambang asinya permainan anak-anak di masa lampau. Sayangnya, keberadaan permainan tradisional kini makin terpinggirkan dengan adanya mainan-mainan modern yang canggih. Hal ini disebabkan karena banyaknya mainan modern dari pabrik yang mudah ditemukan di toko-toko mainan dan dalam aplikasi perangkat pintar. Permainan modern yang serba komputer lebih bersifat individualistis, tetapi untuk permainan tradisional bisa mengajarkan anak-anak untuk bekerja sama dan lebih kreatif. Anak-anak zaman sekarang cenderung lebih suka dan memilih mainan modern seperti playstation, gadget, game internet, dll padahal penggunaan gadget yang berlebihan bisa berdampak buruk bagi kesehatan, baik fisik maupun mental dan pada permainan tradisional sebenarnya tersimpan makna persatuan dan kebersamaan yang indah.
Mainan adalah benda yang selalu hadir dalam kehidupan anak. Dari zaman ke zaman, mainan selalu mengalami perubahan baik mengenai bahan, teknik, dan bentuknya. Perkembangan itu sejalan dengan semakin luasnya pengalaman, meningkatnya pengetahuan dan keterampilan, sejak kehidupan masih berada dalam tataran tradisional (sederhana) hingga memasuki kehidupan yang serba modern (canggih). Mainan tradisional sesungguhnya memberikan nilai penting yang bermanfaat bagi pengembangan daya kreatif dan memberikan rangsang kreatif di kalangan anak-anak, namun banyak menghadapi tantangan dengan merebaknya mainan produksi dari industri modern (Partomo, 2004:2). Oleh karena itu, kerajinan mainan tradisional harus mampu bertahan di era persaingan berbasis teknologi yang disebabkan oleh faktor harga yang terjangkau dan kualitas yang baik.
Mainan tradisional desa Karanganyar memiliki keunikan tersendiri dalam hal pembuatannya mulai dari bahan yan didapatkan, distributor, kreativitas mainannya hingga distributor lengkap di desa tersebut. Kendala yang dihadapi pengrajin mainan anak adalah minimnya sumber daya manusia khususnya yang mampu melihat peluang pasar sehingga produk-produk yang dihasilkan mampu bersaing, serta memiliki keunggulan yang kompetitif dan berkelanjutan. Selain itu, dengan merebaknya pabrik-pabrik di Jepara membuat beberapa generasi penerus lebih memilih bekerja di pabrik daripada menekuni kerajinan mainan tradisional anak.



