Fatih Ahmad Hilmy, dari Hampir Menyerah karena Biaya hingga Bersiap Menembus S3 – UIN Walisongo

UIN Walisongo Online, Semarang – Di balik toga dan senyum bahagia pada prosesi Wisuda Periode Mei 2026, tersimpan kisah perjuangan yang tidak selalu mulus. Salah satu sosok yang mencuri perhatian dalam wisuda Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang pada Sabtu (23/5/2026) di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub adalah Fatih Ahmad Hilmy, wisudawan terbaik Program Pascasarjana Ilmu Agama Islam.

Berbeda dari banyak mahasiswa yang sejak awal memasang target menjadi lulusan terbaik, Fatih justru memiliki orientasi yang lebih personal: menjadi versi terbaik dirinya sendiri.

“Sudah pasti sangat senang mendengarnya. Tapi sebenarnya ini bukan target saya. Target saya adalah menjadi versi terbaik dari diri saya sendiri,” ujarnya.

Kesederhanaan cara pandangnya itulah yang menjadi sisi menarik Fatih. Gelar wisudawan terbaik tidak ia lihat sekadar sebagai prestasi akademik, melainkan amanah bahwa dirinya harus sungguh-sungguh mengembangkan ilmu, terutama di bidang pendidikan dan penelitian.

“Gelar ini menjadi makna bahwa saya memang menyanggupi ilmu, khususnya pada bidang pendidikan dan penelitian,” katanya.

Meneliti Dzikir Napas: Saat Spiritualitas Bertemu Penjelasan Ilmiah

Jika banyak penelitian berkutat pada kebijakan atau teori sosial, tesis Fatih justru membawa tema yang unik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari: kecemasan manusia.

Tesisnya berjudul “Pengaruh Terapi Dzikir Nafas terhadap Kecemasan dan Rasa Syukur: Studi pada Jamaah Manajemen Tasawuf Indonesia di Semarang.” Melalui penelitian ini, Fatih mencoba menjawab satu pertanyaan sederhana namun mendalam: mengapa manusia tetap cemas, dan bagaimana dzikir dapat membantu meredakannya secara ilmiah?

Fatih melihat bahwa rasa cemas dialami siapa saja, baik anak muda maupun orang lanjut usia. Dalam tradisi Islam, dzikir dipercaya mampu menenangkan hati. Namun, ia ingin menguji bagaimana proses itu dapat dijelaskan secara ilmiah, khususnya ketika dzikir dipadukan dengan kesadaran napas.

Yang menarik, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dzikir semata atau kesadaran napas saja tidak cukup memberi dampak optimal.

Fatih menemukan bahwa perpaduan keduanya dapat membantu mengurangi kecemasan sekaligus menumbuhkan rasa syukur melalui dua mekanisme yang saling melengkapi: regulasi biologis tubuh (bottom up) dan pembentukan cara pandang spiritual (top down).

Bagi Fatih, penelitian ini sekaligus menjadi bentuk nyata penerapan konsep Unity of Sciences di UIN Walisongo—bagaimana sains dan spiritualitas tidak dipertentangkan, melainkan dipadukan.

“Sains membantu memahami bagaimana tubuh dan dunia bekerja, sementara agama memberi makna dan keteguhan jiwa. Menyatukan keduanya membuat kita tangguh secara mental dan kokoh secara spiritual,” jelasnya.

Kuliah Sambil Bekerja, Nyaris Menyerah karena Biaya

Perjalanan Fatih menuju gelar wisudawan terbaik jauh dari kata mudah. Selama menempuh studi magister, ia juga bekerja sehingga harus membagi waktu secara disiplin. Setiap hari, Fatih menyisihkan satu hingga dua jam khusus untuk membuka laptop dan mengerjakan tesis. Namun, seperti banyak mahasiswa lain, ritme kerja itu terkadang berubah drastis ketika tenggat semakin dekat.

“Saya tetap menjadwalkan waktu untuk tesis setiap hari, minimal satu sampai dua jam. Tapi kalau sudah deadline, fokus saya benar-benar ke tesis,” ujarnya sambil tersenyum.

Fase paling berat datang pada semester dua. Di tengah kuliah, Fatih sempat merasa ingin menyerah karena persoalan biaya dan tanggung jawab membantu keluarga di rumah. Ia mengaku, masa kecilnya diwarnai kondisi keluarga yang berkecukupan. Namun situasi berubah ketika pandemi COVID-19 menghantam ekonomi keluarga.

“Waktu kecil keluarga saya termasuk orang berada, tetapi ketika pandemi datang keluarga mengalami kebangkrutan. Saat kuliah saya sempat berpikir tidak sanggup melanjutkan,” tuturnya.

Di tengah tekanan itu, dukungan teman-teman menjadi penopang penting. Perlahan, kondisi finansial membaik dan Fatih mampu melanjutkan studi sambil tetap membantu keluarga.

Sosok Guru Tasawuf dan Ambisi Menembus S3

Dalam perjalanan akademiknya, Fatih memiliki satu sosok yang menjadi panutan utama: gurunya, Abah Mustamir. Menurut Fatih, sang guru membentuk cara pandangnya terhadap ilmu tasawuf sebagai sesuatu yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga relevan untuk dibedah secara akademik dan disebarluaskan kepada masyarakat.

“Masih banyak ilmu tasawuf yang sangat bermanfaat dan perlu disampaikan kepada masyarakat Indonesia,” katanya.

Meski tidak aktif mengikuti organisasi selama studi S2—kecuali pengalaman organisasi himpunan mahasiswa ketika S1—Fatih merasa banyak belajar dari dosen-dosen yang membimbingnya memahami penelitian, mulai dari menyusun judul, teknik penulisan, mencari sitasi, hingga menemukan jurnal relevan. Ia juga terkesan dengan lingkungan perkuliahan yang kecil tetapi penuh mahasiswa ambisius dan suportif.

Kini, selepas menyandang gelar magister dan predikat wisudawan terbaik, Fatih belum langsung berlari menuju bangku doktoral. Ia memilih berhenti sejenak sekitar enam bulan untuk menata pekerjaan sekaligus mempersiapkan diri menuju studi S3.

“Setelah ini saya ingin menyiapkan pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk lanjut S3 supaya nanti bisa selesai dengan cepat,” ujarnya.

Pesan Sederhana dan Harapan Menghijaukan Kampus

Alih-alih memberi nasihat muluk, Fatih justru menyampaikan pesan yang sederhana kepada mahasiswa lain: jangan takut menghadapi kehidupan setelah lulus kuliah.

“Lakukan apa yang bisa kalian lakukan. Kalau merasa kurang mampu, carilah tempat atau kelas untuk meningkatkan kemampuan. Sekarang kesempatan belajar sudah banyak,” pesannya.

Menariknya, di akhir wawancara, Fatih juga menyelipkan harapan yang sangat membumi untuk kampus tercintanya: lebih hijau. Ia berharap UIN Walisongo terus menambah pepohonan agar lingkungan kampus semakin nyaman dan sehat.

“Tolong hijaukan kampus ini dengan pepohonan, supaya semua orang di kampus bisa menghirup udara segar,” ucapnya.

Kisah Fatih Ahmad Hilmy menunjukkan bahwa menjadi wisudawan terbaik tidak selalu lahir dari target ambisius atau perjalanan tanpa hambatan. Kadang, ia tumbuh dari kemampuan bertahan di tengah kesulitan, keberanian menyatukan ilmu dan spiritualitas, serta komitmen untuk terus menjadi versi terbaik dari diri sendiri

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *