UIN Walisongo Online, Semarang – Di balik toga dan senyum bahagia prosesi Wisuda Periode Mei 2026, ada kisah tentang ketekunan, kesederhanaan, dan mimpi besar yang tumbuh dari keluarga petani. Sosok itu adalah Laya Lia Rian Afriani, mahasiswa Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi (FST), yang dipercaya menjadi wisudawan terbaik fakultas pada prosesi wisuda Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang yang digelar Sabtu (23/5/2026) di Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub.
Perempuan yang akrab disapa Lia ini mengaku pencapaian tersebut hadir dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Terkejut, bahagia, haru, dan syukur bercampur menjadi satu.
“Jujur, saya sempat tidak percaya bisa berada di titik ini. Ada banyak momen ketika saya merasa lelah, ragu, bahkan takut tidak mampu memenuhi ekspektasi diri sendiri,” tuturnya.
Berbeda dari mahasiswa yang sejak awal memasang target menjadi lulusan terbaik, Lia mengaku tidak pernah secara spesifik mengejar predikat itu. Fokus utamanya adalah menjalani amanah sebagai mahasiswa dengan sungguh-sungguh: belajar, menjaga integritas, dan terus berkembang.
“Bagi saya, penghargaan ini bonus indah dari proses panjang yang dijalani dengan konsisten,” katanya.
Anak Petani yang Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Perjuangan
Di balik capaian akademiknya, ada kisah keluarga sederhana yang menjadi sumber tenaga terbesar Lia. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang berasal dari keluarga petani di Magelang. Ayah dan ibunya, menurut Lia, mungkin tidak memahami detail dunia akademik yang ia jalani, tetapi mereka selalu memahami perjuangan di baliknya.
Ayahnya lulusan sekolah dasar, sementara sang ibu lulusan sekolah menengah pertama. Namun, keterbatasan pendidikan formal itu tak pernah menghalangi keduanya menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, dan pentingnya pendidikan.
“Orang tua saya adalah motivator terbesar saya. Mereka bekerja keras sepanjang hidup demi pendidikan anak-anaknya,” ungkap Lia.
Tak heran, ketika mendengar dirinya menjadi wisudawan terbaik, orang pertama yang ia hubungi adalah kedua orang tuanya. Reaksi mereka membuat Lia nyaris menitikkan air mata.
“Mereka sangat bahagia dan bangga. Rasanya seperti semua lelah dan air mata selama ini akhirnya menemukan maknanya,” ujarnya.
Meneliti Adas dari Lereng Gunung: Ketelitian Seorang Mahasiswa Biologi
Kemenarikan Lia tidak hanya terletak pada kisah perjuangannya, tetapi juga pada topik penelitian yang ia pilih. Dalam skripsinya yang berjudul “Karakterisasi Dua Morfotipe Adas (Foeniculum vulgare Mill.) dari Lereng Gunung Telomoyo, Kabupaten Magelang Berdasarkan Gen ITS-2”, Lia meneliti dua morfotipe tanaman adas melalui pendekatan biologi molekuler.
Penelitian itu bertujuan memahami hubungan kekerabatan dan variasi genetik tanaman adas, salah satu tanaman yang memiliki manfaat ekologis sekaligus nilai penting dalam kesehatan dan pengobatan tradisional. Bagi Lia, sesuatu yang terlihat sederhana di alam ternyata menyimpan kisah ilmiah yang sangat kompleks.
“Yang menarik, sesuatu yang tampak biasa di lapangan ternyata memiliki banyak informasi genetik yang sangat bermakna,” jelasnya.
Lebih dari sekadar penelitian laboratorium, pengalaman itu mengajarkan Lia tentang ketelitian, kesabaran, dan konsistensi dalam proses riset. Menurutnya, karakterisasi genetik seperti ini juga penting untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati lokal dan pengembangan pemanfaatan tanaman secara ilmiah.
Akademik dan Organisasi Bisa Berjalan Bersama
Di tengah kesibukan akademik, Lia tetap aktif di berbagai aktivitas kampus. Ia bergabung dalam Kelompok Studi Botani, menjadi asisten praktikum, sekaligus asisten dosen. Banyak mahasiswa khawatir aktivitas organisasi atau kegiatan tambahan akan membuat prestasi akademik terganggu. Namun Lia punya pandangan berbeda.
“Organisasi dan akademik bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Justru keduanya saling melengkapi kalau kita bisa mengatur waktu,” ujarnya.
Baginya, pengalaman di luar ruang kuliah mengajarkan hal-hal yang tidak selalu ditemukan di buku: kepemimpinan, komunikasi, manajemen waktu, hingga kemampuan bekerja sama. Di balik kedisiplinan itu, Lia mengaku tetap memberi ruang untuk beristirahat dan menjaga keseimbangan antara akademik, keluarga, organisasi, dan waktu pribadi.
Saat Takut Menjadi Bagian dari Proses Bertumbuh
Meski tampak tenang di balik capaian akademiknya, Lia tidak menampik bahwa perjalanan kuliah dipenuhi keraguan. Salah satu tantangan terbesar adalah menghadapi rasa takut terhadap proses penelitian yang membutuhkan tingkat ketelitian tinggi. Ada masa ketika kelelahan fisik dan mental membuatnya ingin menyerah. Namun setiap kali itu datang, Lia kembali mengingat perjuangan orang tua dan tujuan awalnya.
“Saya selalu ingat bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya,” katanya.
Dari pengalaman itulah ia belajar bahwa rasa takut bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan diterima sebagai bagian dari proses bertumbuh. Jika bisa kembali ke masa mahasiswa baru, pesan pertama yang ingin ia katakan pada dirinya sendiri sederhana tetapi penuh makna: tidak apa-apa merasa takut.
“Yang penting terus belajar, terus mencoba, dan jangan terlalu keras pada diri sendiri,” ujarnya.
Membawa Ilmu sebagai Amanah
Sebagai mahasiswa Biologi di kampus yang mengusung konsep Unity of Sciences, Lia mengaku belajar melihat ilmu pengetahuan dan nilai spiritual sebagai dua hal yang saling melengkapi. Baginya, ilmu bukan sekadar alat akademik, tetapi amanah yang harus membawa manfaat.
“Semakin tinggi ilmu seseorang, harus semakin besar juga kontribusinya bagi masyarakat,” katanya.
Kini, setelah menyelesaikan studi sarjana, Lia berencana bekerja terlebih dahulu sambil mempersiapkan diri melanjutkan studi magister dan mencari peluang beasiswa. Kepada adik tingkat di UIN Walisongo Semarang, Lia menitipkan pesan sederhana namun kuat: jangan takut bermimpi besar dan jangan takut gagal.
“Belajarlah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan lupa bertumbuh menjadi manusia yang rendah hati dan peduli sekitar,” pesannya.
Kisah Laya Lia Rian Afriani menunjukkan bahwa wisudawan terbaik tidak selalu lahir dari ambisi besar sejak awal. Kadang, ia tumbuh dari anak petani sederhana yang tekun belajar, berani menghadapi rasa takut, dan percaya bahwa ilmu harus membawa manfaat yang lebih luas daripada sekadar angka di lembar transkrip.




