UIN Walisongo Online, Semarang — Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang kembali meneguhkan kiprah riset dan kontribusinya di kancah global. Didukung oleh hibah riset LPDP AIR Funds Kementerian Agama (MORA) RI, tim peneliti UIN Walisongo Semarang yang dipimpin oleh Prof. Abdurrahman Mas’ud, M.A., Ph.D., melaksanakan riset strategis di Selandia Baru pada Jumat (23/10/2026).
Fokus utama penelitian ini adalah pengembangan kebijakan pendidikan pelestarian lingkungan (sustainability education) berbasis Transcultural Ecotheology dengan menggali praktik terbaik dari filosofi masyarakat adat Māori.
Bedah Praktik Enviroschools dan Filosofi “Ako”
Pada agenda perdananya, tim peneliti mengadakan pertemuan dan Focus Group Discussion (FGD) intensif bersama Cate Jessep, Sustainable Schools Advisor dari Auckland Council. Diskusi ini membedah anatomi kesuksesan program Enviroschools yang telah mengintegrasikan 1.161 sekolah di Selandia Baru ke dalam kurikulum berbasis budaya dan proyek pelestarian alam.
Delegasi UIN Walisongo Semarang secara khusus menelaah lima prinsip fundamental Enviroschools, yakni Empowered Learners, Learning for Sustainability, Honouring Te Ao Māori (penghormatan terhadap kearifan ekologis suku Māori), Respect for Diversity, dan Sustainable Communities.
Tim peneliti menemukan titik temu yang kuat antara nilai-nilai ekoteologi Islam dengan filosofi pendidikan Māori, yaitu “Ako”. Konsep ini mengubah pola pengajaran hierarkis menjadi relasi pembelajaran timbal balik, di mana guru dan siswa berkolaborasi secara setara sebagai kaitiakitanga (penjaga alam) dalam memecahkan isu lingkungan lokal.
Menyoroti pentingnya pendekatan lintas budaya dalam merumuskan kebijakan pendidikan masa depan, Prof. Abdurrahman Mas’ud, M.A., Ph.D., menyampaikan pandangannya yang inspiratif.
“Pendidikan pelestarian lingkungan hari ini tidak bisa lagi berjalan secara parsial. Melalui pendekatan Transcultural Ecotheology, kami melihat bahwa nilai-nilai universal Islam tentang penjagaan alam—seperti konsep Khalifah, Amanah, Mizan, dan Ihsan—memiliki titik temu yang sangat harmonis dengan kearifan lokal masyarakat adat, termasuk filosofi ‘Ako’ suku Māori di Selandia Baru. Sinergi lintas budaya ini diharapkan menjadi model nyata bagi transformasi pendidikan hijau di madrasah dan lembaga pendidikan Islam di Indonesia,” tegas Prof. Abdurrahman Mas’ud.
Langkah inovatif ini turut mendapat apresiasi dari Cate Jessep. Ia merekomendasikan agar temuan dari Selandia Baru dapat mendorong otoritas pendidikan di Indonesia untuk memperketat penerapan standar kurikulum hijau secara terstruktur.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Zain Ali, pakar Islam and Contemporary Issues dari University of Auckland, menambahkan bahwa pandangan ekoteologi Islam dan Indigenous Knowledge (pengetahuan masyarakat adat) setempat harus bersinergi untuk menciptakan pendidikan yang berkelanjutan.

Studi Lapangan dan Observasi Langsung
Sebagai wujud nyata sinergi akademik internasional, tim peneliti terjun langsung untuk mengobservasi praktik pendidikan ekologis di Papatoetoe Intermediate School dan Iqra School.
Associate Principal Papatoetoe Intermediate School, Tracey Prout, menegaskan bahwa Empowered Learners menjadi fokus utama dalam pengembangan praktik pendidikan berkelanjutan berlandaskan filosofi budaya setempat.
Sementara itu, Principal Iqra School, Leanne Chartrand, menjelaskan bahwa nilai-nilai Islam seperti Khalifah, Amanah, Mizan, dan Ihsan diintegrasikan secara langsung melalui program Special Character. Guna memperkuat pemahaman atas Indigenous Knowledge, tim juga meneliti akar budaya penjagaan alam oleh komunitas Māori di Te Ihu o Mataoho dan Museum Waikato.
Sebagai penutup dari rangkaian studi di Selandia Baru, tim peneliti MORA UIN Walisongo menjadwalkan diseminasi hasil temuan awal dan FGD bersama Komunitas Muslim HUMIA. Rangkaian riset ini diharapkan mampu menghasilkan rancangan kebijakan serta modul ekoteologi transkultural yang aplikatif bagi ekosistem pendidikan Islam di Indonesia.




