Kampung Jawi: Nguri-Uri Budaya Jawi

Kampung Jawi: Nguri-Uri Budaya Jawi

            Suara gamelan mulai terdengar bertanda wisata kuliner Kampung Jawi telah dibuka. Sore hari di Kampung Jawi adalah pilihan yang tepat untuk melakukan wisata kuliner khas jawa bersama teman, maupun kerabat. Nuansanya yang masih tradisional ini yang menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung, yang ditawarkan tak hanya wisata kuliner tetapi juga kesenian khas jawa. Selain menikmati kuliner wisatawan dapat menikmati alunan musik dan suara gamelan.

Penggegasan dibangunnya Kampung Jawi merupakan suatu kekhawatiran masyarakat akan hilangnya budaya jawa pada anak muda. Sehingga mereka kembali mengusung konsep “Jawi” yang diketuai oleh Bapak Siswanto selaku ketua Pokdarwis. Perlu diketahui bahwa di Kampung Jawi itu selain mengajarkan berbagai budaya jawa juga mengajarkan seperti adat istiadat, bahasa, hingga kebiasaan dan juga diajari mengenai seni tradisional jawa, misal tari-tarian, dan alat musik tradisional.

Alat musik yang terdapat di Kampung Jawi berupa gamelan yang terdiri dari gong, kendang, bonang, kenong.  Sedangkan permainan tradisional yang dapat kita jumpai di Kampung Jawi seperti tek-tek, jathilan, dan karawitan. Suara ini dapat dinikmati tiap mengunjungi Kampung Jawi yang berasal dari sanggar-sanggar kampung tersebut.

Ketika akan memasuki Kampung Jawi wisatawan disuguhkan dengan mural yang bertemakan Kebudayaan Jawa. Dengan mengisyaratkan penegasan identitas terhadap Kampung Jawi sebagai Kampung Kebudayaan. Penggunaan bahasa jawa kromo masih sangat kental tidak hanya bagi orang dewasa tetapi juga pada anak-anak. Pengenalan dan penerapan kebudayaan jawa telah dilakukan sedari anak-anak oleh keluarga dan dilanjut dengan teman sebaya.

Tiap minggunya diadakan pranatacara atau pembawa acara dengan menggunakan bahasa jawa. Pelatihan ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian bahasa Jawa kromo. Sehingga tidak heran kita menjumpai pembawa acaranya menggunakan bahasa jawa meskipun yang hadir tidak seratus persen orang jawa asli.

Di angkringan Kampung Jawi para penjual maupun yang bertugas sebagai tempat penukaran ‘kepeng’ akan mengenakan baju khas jawa yaitu lurik dan jarik bagi perempuan, sedangkan laki-laki mengenakan lurik dan blangkon.

Sebagai salah satu kampung tematik Kampung Jawi layak menjadi role model bagi wilayah lain dalam pelestarian kebudayaan jawa. Tidak hanya itu Kampung Jawi juga sebagai tempat wisata edukatif yang dapat dipilih untuk mengenal kebudayaan jawa. Hal ini terbukti banyak mahasiswa maupun orang asing berdatangan dengan tujuan mempelajari kebudayaan jawa.

Tanggal 31 Oktober sebagai peringatan ulang tahun Kampung Jawi. Pada ulang Tahun Kampung Jawi masyarakat setempat akan mengadakan sebuah festival kebudayaan pada setiap tahunnya. Untuk memeriahkan kegiatan tersebut Akan ada beberapa delegasi yang diutus per RW untuk mengadakan kegiatan UMKM. Selain kegiatan UMKM ada juga pertunjukan tarian Gambang Semarang, dan Reok. Kegiatan ini berlangsung selama tujuh hari. Dewasa ini Kampung Jawi benar-benar menunjukkan eksistensinya tidak hanya dalam lokal tetapi juga mulai dikenal secara Intenasional.

Atas kepedulian dan dedikasi secara mendalam masyarakat mengenai budaya sudah selayaknya kita muda penerus menjaga agar budaya tersebut tetap eksis ditengah zaman yang serba digital ini, zaman boleh berubah asalkan budaya jangan sampai punah.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *